Cerbung - Perjuangan Keiko Part 1

Oktober 31, 2016

 Aku terlahir menjadi anak kedua dari keluarga Ishida. Ayahku Ishida Akihiro merupakan pengusaha sukses namun ketika beliau meninggal, kini perusahaan sudah di ambil alih oleh orang lain. Saat ini kami hanya tinggal berempat di sebuah Rumah kompleks yang tidak begitu besar di daerah Tokyo. Hanya ada aku Ishida Keiko, Ibuku Ishida Katsumi, kakakku Ishida Kimiko dan adikku Ishida Akio.

Kakakku bekerja di sebuah perusahaan penerbit terbesar di Tokyo, aku dan Adikku hanya membantu Ibu di sebuah Kedai bernama 'Kedai Ishida' satu-satu peninggalan ayahku, yang harus kami perjuangkan.

"Kamu kuliah lagi aja di Universitas ambil jurusan tata boga, Keiko-chan?" tanya kakakku, membuatku terkesiap karena tengah asik membaca buku resep Miso Shiru.

"Tidak Kak, aku akan belajar memasak sendiri saja," jawabku menatapnya sambil tersenyum.




"Hey, kakak mau kamu menggapai cita-cita menjadi chef handal, Keiko-chan," ucapnya sambil memegang kedua bahuku dengan tatapan tajam.

"Kakak.. Aku bisa menjadi chef tanpa harus masuk ke Perguruan Tinggi, percaya lah.." jawabku sambil menggenggam kedua tangannya.

"Kau yakin? Tidak ingin ke Perguruan Tinggi?" tanyanya sambil menatap tajam lagi.

"Aku yakin, Kak. Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku menjadi takut, haha..."

"Kau ini.. Haha.."

Kami pun tertawa bersama.

***

 Aku memilih untuk tidak melanjutkan kuliah, karena aku tidak mau menambah beban kakakku. Aku hanya akan bekerja keras membantu memajukan Kedai peninggalan ayahku.

Tok..tok.. "Keiko sayang?" panggil Ibu dari balik pintu kamarku.

"Iya, Bu masuklah, tidak dikunci.."

"Kamu sedang apa sayang?" tanya Ibu dengan menatap buku yang berserakan di kasurku.

"Biasa, Bu. Aku sedang membaca buku resep," jawabku sambil membereskan buku yang berserakan.

"Apa kamu tidak ingin melanjutkan sekolahmu?" tanya Ibu sambil menatap dengan tatapan hangatnya.

"Ibu.. Aku akan belajar menjadi chef tanpa harus ke Perguruan Tinggi, percaya lah," jawabku sambil menggenggam tangannya yang lembut itu.

"Kamu yakin?"

"Tentu, Bu."

"Kamu harus kuliah, Keiko-chan."

"Ibu, aku kan sudah bilang, aku tidak mau kuliah."

"Tidak mau? Kenapa sayang? Kamu harus kuliah. Harus.."

"Tapi kenapa, Bu?"

"Karena pesan terakhir Ayahmu adalah harus bisa membuat anak-anak sukses."

"Sukses nggak harus kuliah kan, Bu?"

"Tapi kuliah adalah salah satu usaha agar kamu sukses sayang."

"Tapi, Bu.."

"Tapi apa? Ibu sangat bahagia jika kamu mau nurut untuk kali ini, pikirkan baik-baik ya sayang.."

Ibu mengecup keningku, kemudian keluar kamar. Aku hanya membisu, pikiran ini melayang kemana-mana, 'bagaimana ini? Ternyata Ayah yang berpesan untuk aku melanjutkan sekolah. Apa yang harus aku lakukan?!' batinku berkecamukan.

***

 Di Kedai Ibuku menu yang paling disukai oleh pelanggan adalah Miso Shiru. Yah, aku pun masih harus selalu belajar untuk bisa menciptakan Miso Shiru yang lezat dan enak membuat orang yang memakan itu, bisa seketika membuat beban menjadi hilang.

 Para pelanggan mengatakan bahwa Miso Shiru buatan Ibuku adalah penggugah selera, bisa membuat penyantapnya terhipnotis begitu saja. Aku memang kurang beruntung, tidak menuruni kemampuan Ibuku dalam memasak. Tidak seperti kakak, mampu membuat miso shiru dengan rasa yang tak jauh berbeda dengan masakan Ibu. Tetapi, aku terus berjuang tak mau kalah.

"Ibu, beritahu aku apa rahasia Miso Shiru agar seenak ini? Aku berkali-kali membuatnya namun tak selezat buatan Ibu," ucapku dengan memelas, memperhatikan Ibu yang tengah memasak.

"Kamu udah benar komposisinya?"

"Tentu, Bu. Aku sangat merasa udah sangat yakin meniru cara memasak Ibu dengan benar. Tapi, rasanya tidak pernah seperti Ibu.."

"Apa kamu yakin?"

"Aku yakin Ibu, penggunaannya bumbu masak berbagai masakan jepang saus untuk berbagai masakan dan bahan olesan setelah diencerkan dengan sake atau mirin ditambah gula pasir. Bahan utama untuk miso shiru berbagai macam sup dan masakan nabemono. Bahan perendam sewaktu membuat miso yaitu acar sayur-sayuran dan ikan. Itu menurut buku yang aku baca Bu, betul kan?" celotehku dengan menunggu jawaban Ibu.

"Haha.. Yaa itu benar, lalu apa kamu tau apa itu miso? Begini, miso adalah bahan makanan asal jepang yang dibuat dari fermentasi rebusan kedelai, beras, atau campuran keduanya dengan garam. Kapang yang digunakan untuk fermentasi adalah Aspergillus Oryzae atau koji-kin.
Miso digunakan sebagai bumbu masak untuk berbagai jenis makanan jepang. Lalu, warna miso bisa krem kekuningan, coklat muda, coklat tua, hingga kehitaman, dengan tekstur seperti selai kacang.
Rasa miso biasanya asin, tapi rasa, aroma, dan warna miso bergantung bahan baku, resep, dan lama fermentasi.
Bergantung pada wilayahnya di Jepang, bahan baku miso bisa berupa beras, gandum, jelia, gandum hitam, haver, dan serealia yang lain.
Fermentasi kedelai dengan ragi kojikin mengurai protein kedelai, sekaligus menghasilkan sejumlah besar asam amino.
Rasa lezat asam amino tersebut dikenal sebagai ' Umami ' yang merupakan rasa ke-5 dan 4 rasa utama : manis, asam, asin, dan pahit. Miso antara lain merupakan sumber protein, vitamin B-12, vitamin B-2, vitamin E, dan isoflavon," jelas Ibuku berbicara dengan begitu mahirnya.

Aku menatap kagum Ibu. " Ibu menghafal itu semua? Sebagian aku udah tau, Bu."

"Tentu. Dengar ya hanya tau itu tidak cukup, kamu harus memahami betul apa itu miso. Sehingga ketika sudah di luar kepala, kamu sudah sangat memahaminya, rasa akan lezat dengan sendirinya."

"Wahh.. Begitu ya, aku akan menghafalnya Bu," aku tersenyum.

Ibu membalas dengan senyuman hangatnya. " ahh iya, satu lagi.." tambahnya.

"Apa itu Bu?"

"Kamu harus memasak menggunakan hati, agar rasanya bisa menghipnotis semua orang," senyum Ibu merekah.

"Baikk Ibu terimakasih ya.." aku memeluk Ibu dari belakang.

"Ibu yakin kamu bisa lebih lezat dari buatan Ibu," sambil mengelus tanganku dengan tangan kirinya, tangan kanannya sibuk mengaduk masakannya.

***

 Kami berkumpul ketika sudah sangat larut malam, karena menunggu kakak pulang dari bekerja, dan Akio pulang dari sekolahnya. Akio sebentar lagi ujian akhir, makanya dia sering pulang larut, karena mengikuti les private sehabis pulang sekolah. Akio baru saja pulang dan kami semua menantikan kedatangannya kakak.

Tak lama kemudian..

"Tadaimaa (Aku pulang)..." suara Kakakku sambil membuka pintu.

"Okaeri (selamat datang) .." ucapku dan Akio serentak.

"Cepat mandi dulu semua, lalu kita makan malam bersama," ucap Ibu sambil menyiapkan makanan.

"Siap.." balas kakak dan Akio serentak.

Ya, dan aku hanya membantu Ibu menyiapkan makan malamnya.

"Ini, tolong disusun ke meja ya, Kei."

"Baik, Bu."

Sejam kemudian kakak dan Akio keluar dari kamarnya, dan langsung duduk di tempat makan.

"Ikkou Keiko-san hayaku (ayo Keiko-san buruan).." ucap Akio.

"Hai (baiklah)..." aku langsung mempercepat langkahku dan duduk di antara Ibu dan Akio.

"Ittadakimasu (selamat makan)..." ucap kami serentak. Kami semua melahap masakan Ibu tentu saja miso kesayanganku yang paling utama.

Ketika makanan semua habis, kakak dan Akio kembali ke kamar.

"Ibu aku ke kamar duluan ya, ada yang harus aku kerjakan, terimakasih makanannya," ucap Akio lalu mengecup pipi Ibu dan kembali ke kamarnya.

"Aku juga ke kamar duluan ya, Bu. Keiko maaf aku tidak bisa membantu mencuci piring, banyak tugas yang harus aku selesaikan," ucap kakak.

"Iya, tenanglah aku juga tau kau lelah," jawabku sambil tersenyum.

Hanya ada aku dan Ibu, dengan segera aku membereskan segalanya.

"Kalau kamu lelah, masuklah ke kamar, biar Ibu yang membereskannya," senyum ibu yang sangat hangat.

"Tidak, Ibu. aku baik-baik saja," balas senyumku dan melanjutkan mencuci piring.

***

 Aku melemaskan otot-otot yang sangat kaku ini, merebahkan badan di atas kasur berwarna ungu kesukaanku. Dengan dinding berwarna abu-abu dengan begitu banyak poster anime. ' ahh shit! Insomnia.' batinku.
Lalu aku memutuskan untuk memanfaatkan insomnia ini, menulis apa yang tadi Ibu katakan padaku. Sesekali, aku mengigit jari, 'apa lagi ya.' mengingat kembali apa yang dikatakannya.

 Sejam berlalu, 'aku sudah mencatatnya dengan lengkap, yah aku yakin itu.' Aku langsung melanjutkan menghafalkan, tidak hanya menghafal, namun juga menghayatinya.

 'Miso adalah..' dan tak sadar aku tertidur dalam keadaan dekat buku yang berserakan.

***

"Bangun.. Keiko-chan..." teriak kakak, membuat aku terkesiap dan berusaha memejamkan mata ini, yang terlihat siluet matahari yang sudah naik ke ujung ufuk siap menyinari dunia Pagi ini.

"Kakak.. Berikan aku waktu lima menit lagi ya," jawabku sambil menyibak selimut ke seluruh permukaan wajah.

"Bangunlah.. BAKA (bodoh)..." ucapnya membuat aku langsung bangkit.

"Apa kau bilang tadi?!" sambil memukulnya dengan guling ungu kesayanganku.

"Hahaha... Dengan begitu kau bangun bukan? Haha.." ia tertawa terpingkal-pingkal dan berjalan keluar kamar. Karena itulah kelemahanku. Tidak terima jika ada yang menghujatku dengan kata BODOH!! Tidak akan!

'Sial' dengan sangat berat aku bangkit melangkahkan kaki ini menuju kamar mandi.

***

 Pagi ini tidak seperti biasanya Ibu tidak membangunkanku. Segera saja ku tengok Ibu dikamarnya . Kulihat ia meringkuk diatas kasurnya dan berselimut tebal.

"Bu, ibu kenapa?" Tanyaku sambil memegang keningnya yang terasa sangat panas saat telapak tanganku menyentuh keningnya.

"Ibu gak apa-apa kok. Nanti istirahat sebentar juga sembuh" ujar Ibu menenangkan diri.

"Hemm, yasudah kalau begitu kedai hari ini tidak usah buka ya, Bu."

"Jangan, Ibu minta tolong kamu buka kedai saja ya. Kamu bereskan peralatan nya begitu demam Ibu turun, Ibu akan segera ke kedai. Yang penting kedainya di buka dahulu"

"Tapi, Bu..."


Bersambung..

#OneDayOnePost


You Might Also Like

2 komentar

Popular Posts

Instagram