Pencinta Basket

Oktober 18, 2016

 Tepat pada tiga tahun yang lalu, aku masih duduk di kelas 3 SMP, Tentunya sudah memasuki ujian kelulusan. Salah satu syarat kelulusan adalah mata pelajaran Penjaskes, bermain Bola Basket.

"Apaan kali, masa nggak nyambung banget suruhnya maen basket! Sebel ih.." gerutu Renia yang tidak suka olahraga.


"Haha.. Gua sih seneng Re, orang gua seneng Basket.." jawabku sambil tertawa senang.

"Ya lu enak Put, jago maen Basket jadi bisa gede dah tuh Nilai," ucapnya dengan memalingkan wajahnya ke jendela.

"Aamiin.. Tapi Re, gua cuman suka aja kok. Gua malahan nggak bisa kaya orang yang jago masukin Bola ke Ring. Gua masuk karena lagi Lucky aja. Hahaha," jelasku membuat si Renia langsung menatap tajam wajahku.

"Serius lu, Put?" tanyanya dengan wajah penasaran.

"Serah lu Re mau percaya apa nggak," jawabku lalu keluar meninggalkannya.

****

 Pagi yang cerah di sebuah lapangan di MTs daerah Jakarta Utara, seakan-akan sangat mendukung ujian praktek olahraga ini. Kami semua rapi sesuai barisan masing-masing, sambil menunggu aba-aba dari Guru mata pelajaran Penjaskes.

"Oke bapak mulai ya anak-anak... Nggak sulit kok, bapak hanya mau hitung seberapa banyak kalian bisa masukin Bola ke Ring, urutannya dimulai dari absen, baik Aditya Fajar silahkan.." ucap Bapak Entis guru olahraga.

"Aduhh.. Ini mah alamat nilai gua bakalan jelek nih Put," ucap Renia dengan muka panik.

"Bismillah aja Re, bisa kok.. " aku hanya membuatnya tenang saja, padahal aku sendiri tidak tahu bisa berapa kali memasukan Bola itu.

"Renia Mustika Ratu.." panggil Bapak Entis, karena giliran temanku itu.

Bismillah, orang pinter kalah sama orang beruntung. Bisikku di telinga Renia.
Dia mengangguk sambil mengambil napas dalam-dalam.

Ternyata benar Renia bisa menjebolkan 8 kali. 'Hebat aku belum tentu bisa segitu' batinku.

"Yeay, gua bisa Put," ucap Renia dengan senyuman yang merekah itu.

"Iya, selamet ya, gua aja belum tentu bisa." jawabku dengan tersenyum.

"Heryanty Meilany Putri.." tetiba giliranku, entah kenapa cepat sekali rasanya.

"Semangat Put ..." ucap Renia.

 Yah, aku yakin. Karena keyakinan aku bisa mendapatkan Nilai penjas Tertinggi, Alhamdulilah. aku berhasil menjebolkan 15 kali. Ahh Lucky sekali bukan?

"Wahh lu luar biasa Put, selamett yaa.." ucap Renia dengan mendekapku.

"Terimakasih Re.." aku membalas dekapannya.

****

 Lalu pada dua tahun yang lalu, ketika duduk di kelas 1 SMA, aku dimasukkan ke dalam Pondok Pesantren Daar El Falaah.

 Disana harus memilih satu Extra kulikuler, terdapat Marching Band, Bola Basket, Maen Piano, dan banyak lagi.

"Huh, gua maunya ikut semua Mun.." ucapku dengan muka memelas.

"Iya Put, coba aja boleh ikut semua. Tetapi harus milih satu Put satu.. Jadi elu mau pilih apa?" ujar Muna dengan memandang wajahku.

"Apa ya.. Gua mau Basket, mau Marching jugaa.. Gimana dong?" jawabku dengan membalas tatapannya.

"Satu aja Put.."

"Hmm iya sih, kalo gitu gua Basket." jawabku dengan mantap.

"Yakin? Yaudah deh gua juga Basket."

"Heh! Lu yang yakin jangan labil."

"Iya gua yakin, lu tau kan gua cinta Basket?"

 Aku menganggukan kepala. Yah, kami berdua memang pecinta Basket. Muna adalah temanku dari Mts, kami mempunyai hobby yang sama, yaitu Bermain Basket.

 Muna sangat mahir dalam bermain Basket, sedangkan aku tidak. Tetapi aku tidak malu, sama sekali tidak. Karena Bermain Basket itu adalah hobby sama halnya seperti aku Menulis. Aku tidak mahir dalam hal itu, tetapi aku merasa bahagia jika melakukannya.

****

"Eh Put, kata kak Bella setiap pulang sekolah kita latihan terus, dan bakal dibikin Tim," ujar Muna dengan senyuman merekah.

"Apa? Beneran? Wahh.. Senengnya bisa jadi Tim Basket tuh," jawabku dengan senyumannya yang tidak kalah manisnya.

 Akhirnya Hari demi Hari kami selalu latihan tanpa pernah kenal lelah, karena itu adalah sebuah hobby. Sampai kita sudah membuat Tim yang kompak dan baju seragaman.

 Sampai pada akhirnya, diadakan lomba Bola Basket ke Pesantren lain. Yah, kamilah yang mewakili Pesantren Daar El Falaah.

 Aku merasa sangat bahagia, bisa mengikuti lomba Basket apalagi mewakili Pondok sendiri. Sungguh rasanya campuk aduk, senang, dan takut. Tetapi kami adalah Tim kompak, selalu menyemangati, selalu mendoakan.

 Kami semua hanya modal Yakin bisa. Lawan kami ternyata lawan yang sangat kuat, Pondoknya menyewa Pelatih untuk memperkuat Tim mereka.

 Tetapi kami hanya dilatih oleh senior yang juga ada di daerah Pondok. Kami yakin, itu bukanlah masalah.

 Kami menuju Pondok lawan, selama di Perjalanan ada rasa takut, resah, segala rasa itu pun berkecamuk di hatiku.

 Tetapi salah satu Seniorku berteriak " Tim kompak Daar El Falaah jangan takut yakin Allah selalu ada bersama kita, bismillah yakin Allahu Akbar!!" seru Senior itu.

Hingga kita semua akhirnya bertakbir 'Allahu Akbar!!'

****

Sesampai di sana, kami melihat pondok itu sangat luas, di setiap ruangan terdapat AC, pintu ruangan pun terbuat dari kaca laiaknya pintu supermarket, terlihat sangat mewah. Jadi wajar saja jika Pondok itu pasti menyewa Pelatih yang sangat Handal.

'Kalo aja gua Mondok di sini mungkin gua bakal betah banget kali ya?' batinku, astagfirullah pikiran macam apa itu?!

"Ayo cepet.. turun kita pemanasan dulu.." ucap Seniorku, membuyarkan lamunanku.

Dengan segera aku turun dari mobil, dan mengikuti arahan Senior.

****

Acara pun dimulai.

'Pritt... ' bunyi priwitan menandakan Permainan dimulai.

aku sangat bersemangat, tentu mataku tak akan lepas dari satu tujuan, yaitu Bola Basket.

"Kak Put.. Lempar kesini.." ucap Alfina, sambil melambaikan tangan.

Aku mengerti, tetiba ketika ingin melampar ke Fina, 'bruk' aww.. Aku terjatuh! Salah satu Tim lawan menyengkat kakiku, membuat aku terjatuh.

Pritt... Bunyi priwitan lagi, entah mungkin karena aku terjatuh. Akhirnya acara di break sebentar.

"Kak Put gapapa?"

"Put lu gapapa kan?" banyak sekali suara yang terdengar membuat kepalaku sakit.

"Iya..iya.. Aku gapapa kok," jawabku dengan tersenyum.

"Lu gausah maen dulu aja, Put" ucap Muna

"Iya benar tuh kak.." kata Fina

"Gua baik-baik aja Mun, gua mau tetap lanjut.." jawabku dengan mantap.

"Lu yakin?"

Aku mengangguk.

Acara dimulai kembali.

Tentu saja aku tidak akan melakukan kesalahan kedua kalinya, tak akan lemah lagi. I'm fight!!

****

Sedetik, semenit, lalu sejam berlalu. Yah, menit terakhir kami mendapat score 4, Tim lawan mendapat score 2.

Yeah!! Kita menang. Alhamdulilah..
Kami semua saling berpelukan tanda bahagia, dan tertawa bahagia.

'We are the Wins' bisik Muna kepadaku. Aku mengangguk dan kita pun berpelukan.

****

Mobil pun keluar dari gerbang Pondok tersebut. Tentu saja dengan hati bahagia, dan rasa bangga yang tak tergambarkan.

Tentu saja, kita dapat memenangkan lomba walaupun lawannya kuat. Kami bisa memenangkan. Sepanjang perjalanan kita tertawa bahagia, mendapatkan medali perak.

Alhamdulilahh ala kulli hal :)

                                           ~ The End ~

#ChallengeIOC
#PON2016

You Might Also Like

6 komentar

Popular Posts

Instagram