Berbagi Bahagia

November 25, 2016

Pagi ini begitu cerah, embusan angin membelai lembut wajahku. Langkah demi langkah, begitu teratur dan cepat.

Hari ini, terdapat agenda trainning untuk dua hari ke depan. Ya, jadi aku tidak melangkah untuk pergi ke Isuzu, melainkan menuju Masjid Astra. Untuk kesana, perlu dua angkot yang harus kutumpangi. Sekitar jam 08:15, aku sampai di Masjid Astra.



Sesampai disana, kami pun temu kangen dan saling berpelukan karena begitu lama tak bersua. Kemudian Pak Riko selaku manager area, mengarahkan agar segera naik ke bus yang ada di depan Masjid. Karena kita akan berkunjung di tempat dimana kita menyalurkan dana.

Setelah masuk ke dalam bus, mataku menatap liar. Akhirnya, aku duduk di bangku urutan kedua dari depan. Yah, tentu. Aku mencari tempat yang terdapat jendela yang terbuka, menikmati embusan angin di tengah teriknya matahari Jakarta. Memandangi tempat yang begitu familiar, kepadatan kendaraan; macet, polusi yang betebaran dimana-mana.

Sekitar jam 09:30, kami menelusuri daerah Cilincing untuk berkunjung ke Yayasan Al-Amin dimana Lazis menyalurkan dana. Sesampai disana, kami disambut dengan baik oleh pengurus sana. Tak jauh dari Yayasan ini, kudapati laut di ujungnya. Ya, ternyata benar, ini adalah Kalibaru Cilincing yang sangat dekat dengan laut.

Acara dimulai, ada beberapa penampilan dari murid sana yang dipersembahkan untuk kami. Mulai dari, Quratil Qur'an, Hafidzul Qur'an, sampai menampilkan lagu nasyid. Setelah acara selesai, Ibu pengurus Yayasan menyuguhi kami dengan berbagai macam makanan seafood. Di antara lainnya terdapat kerang, cumi, udang, dan banyak lagi.

Makanan yang begitu menggugah selera kami, membuat para cacing semakin keras berteriak meminta haknya untuk segera dipenuhi. Akhirnya kami pun, makan bersama. Rasanya yang begitu lezat, membuat lidah menjadi tak ingin berhenti. Dan melupakan tentang tekanan untuk menahan; berat badan.

Sekitar jam 13:30, kami bergegas kembali naik ke dalam bus. Karena masih ada satu tempat lagi yang harus dikunjungi. Yaitu sebuah sanggar bernama Pulung Pinasti.

Di Yayasan Al-Amin, Lazis menyalurkan dana untuk pendidikan. Seperti memberikan beasiswa, tas, dan lain sebagainya.
Sedangkan di sanggar Pulung Pinasti ini, Lazis menyalurkan dana untuk kreatifitasnya, disana adalah sanggar dan banyak anak-anak yang sangat berbakat.

Sekitar jam 13:50, bus pun terhenti tepat di sebuah tempat yang sepertinya sudah lumayan lega, aku tertegun.

"Eh, La. Emangnya ini sanggar yang waktu itu ya? Kok beda ya?" Mataku menatap liar, dan menatap Fathillah sesekali, dengan mengerutkan dahi.

"Katanya juga, udah pindah sekarang, Put. Tapi ini tetep sanggar yang waktu itu kok." Aku mengangguk, kami pun segera turun dari bus.

Setelah aku berada di depan pintu, ada dua anak perempuan yang familiar muncul dari dalam, dengan baju dan dandanan yang membuatnya semakin terlihat lucu. Ia menghampiriku dan mencium tanganku, "hey! Icha apa kabar sayang?" Ia tersenyum seraya menjawab, "baik ka." Ia berjalan untuk bersalaman ke semuanya.

Dulu, awal trainningku juga berkunjung ke sanggar ini. Namun, tempatnya berbeda. Mereka tampil di tengah Jalan, tetapi setelah kumelihat keadaan sekarang. 'Alhamdulilah' batinku. Kami pun dipersilahkan untuk naik ke lantai 2, ternyata disanalah terlihat tempat yang terlihat luas yang di terhampar karpet di bawahnya, dan terdapat panggung di ujungnya.

Perhatianku pun terfokus pada dinding-dinding di sekitar. Terdapat banyak sekali kreatifitas yang terlihat, seperti kaligrafi, dan benda-benda hasil kreatifitas mereka.

Acara pun mulai, aku segera duduk di dekat tembok. Agar sedikit menghilangkan penat tadi berjalan sedikit di bawah terik matahari walau hanya sekadar bersandar di tembok.

Kemudian, mereka menampilkan tari-tarian, marawis, dan lain sebagainya. Untukku, itu sudah menjadi hal biasa, karena ini adalah kedua kalinya aku menyaksikan ini. Tidak seperti mereka para Duta Zakat baru yang sibuk menegakkan ponsel, tablet, agar tidak kehilangan momen ini.

Namun, ada satu penampilan yang membuat tanganku menjadi gatal ingin mengangkat ponsel merekamnya agar tidak kehilangan yang satu ini. Seseorang anak sekitar kelas 3 SD, dia tampil sendiri. Dan begtu percaya dirinya dengan menggerakkan badannya sangat lihai, mulai dari instrumen lembut, jazz, hingga ke lagu yang nyaris ngerock. Waw, itu keren menurutku.

Ternyata bukan hanya aku yang terpukau oleh penampilan yang satu ini, nyaris semua dari kami berusaha mengabadikannya dalam photo maupun video. Hingga akhirnya tepat jam 15:15, acara selesai. Kami pun melaksanakan salat ashar terlebih dahulu.

"Udah kumpul semua?" Suara lantang seorang lelaki di ambang pintu bus, "saya absen ya," lanjutnya.

Setelah Pak Riko, manager itu selesai mengabsen dan telah lengkap. Pak supir pun mulai menancap gasnya dengan perlahan. Mataku menatap liar, terlihat lelah di raut wajahnya semua orang yang ada di bus. Namun, sebuah kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan oleh apapun. Kebahagiaan bisa berbagi dan membuat semua orang tersenyum.




#OneDayOnePost
#TantanganODOP
#LazisAmaliyahAstra

You Might Also Like

5 komentar

  1. Makin rapi sekali tulisannya... keren deh!

    BalasHapus
  2. ternyata bahagia itu sderhana...bhkan bisa saling brbagi ..nice post iput...

    BalasHapus

Popular Posts

Instagram