I will always be there for you part 2

November 21, 2016

"Jadi lo mau cerita apa, La?" ucap Renia setelah menyeruput secangkir kopinya.

"Gue mau ngerantau ke Malaysia, Re." Mataku lurus ke arah jendela melihat kendaraan yang lalu lalang di sekitar Kedai Bugis.

"Apa? Lo bercanda kan, La?" Ia tersedak, dan mencengkram bahuku dengan tatapan tajam.



"Gue serius, Re," jawabku singkat, kemudian mengalihkan pandangan sekali lagi.

"Hey! Wake up girls! Malaysia itu jauh, bukan kayak dari sini ke Istiqlal. Remember that!" Ocehannya dengan sedikit geram.

"Gue tahu kok, Re. Malaysia itu jauh banget, dan gue udah pikirin secara matang-matang." Mataku menatapnya dengan yakin.

"Gini, cewe itu dari Jakarta ke Bogor aja kalo nggak ada mahromnya itu nggak boleh, La. Apalagi sampe ke luar Negeri, dan lo nggak punya siapa-siapa disana. Please, think again honey." Renia mulai merebahkan bahunya ke kursi, dan menyilangkan kedua lengannya.

"Gue bisa jaga diri kok, Re. Percaya deh sama gue, please." Mataku menatapnya penuh harapan.

"Tapi, La.."

"Please, ngertiin posisi gue, Re."

"Gue ngerti, ngerti banget, La. Tapi ada solusi laen kok, yakin deh. Ada jalan laen." Ia menegakkan bahunya kembali.

"Tapi, Re.." Belum sempat kumeneruskan ucapan ini, ia menarik lengan ini ke dalam dekapannya. Aku merasa tenang, dan bisa sejenak menghilang begitu banyak penat di hatiku.

"Lo tenang dulu deh, La." Ia mengelus bahuku, membuat hati ini menjadi tenang seketika.

"Lo nggak mesti jauh-jauh ke Negeri orang cuman untuk nyari uang kok, rejeki itu udah Allah yang ngatur. Kalau lo ngejar uang itu nggak akan ada abisnya, La. Allah itu maha kaya, kita tinggal minta. Selama kita masih mau usaha dan doa, yakin deh Allah bakal bantuin lo, yakin. Nggak ada masalah yang nggak ada solusinya, dan Allah nggak akan ngasih cobaan di luar batas kemampuan hambanya," celocehnya membuatku tertegun, kepala ini mengangguk menyetujui perkataannya. Hati ini sedikit tenang, dan aku tenggelam di dalam dekapannya.

Aku tersentak, Renia melepaskan dekapannya dan menghapus air mata yang masih menggenang di sudut mataku. "Ini udah malem, La. Ayo balik," ucapnya.

Aku mengangguk, ia bangkit menuju mobil berwarna merahnya itu. Aku mengekor di belakang, dengan lunglai. Sepertinya tenagaku sangat terkuras dengan isak tangis barusan, tetapi hati ini begitu plong tenang; seperti beban telah hilang.

"Ayo, La. Masuk." Ia memanggilku dari dalam mobil, jalanku saat ini bagaikan siput yang tengah sekarat.

Aku mengangguk, berusaha mempercepat langkah ini. Walaupun tidak ada bedanya; masih dengan lunglainya.

Aku membuka pintu mobil sebelah kiri, duduk dan langsung memasang sabuk pengaman. "Kayaknya lo udah lelah banget, haha." Renia menyeringai, tetapi pandangannya lurus ke arah jalanan.

Aku menggubrisnya, mengalihkan pandangan ke arah jendela yang tepat di sebelah kiriku. Malam yang nyaris larut, tetapi kota Jakarta masih sama; ramai akan kendaraan. Sesekali terlihat gedung-gedung pencakat Langit, dan melihat lampu-lampu yang membuat malam menjadi semakin indah dan berwarna.

Tak lama, mataku terpejam. Dan berlayar menuju alam mimpi.

"La.. Della.. Bangun, La. Udah sampe." Aku terkesiap, mendengar seseorang memanggilku dan mengguncangkan tubuh ini.

Aku membuka mata perlahan, dan menkucek mata untuk memastikan aku sedang tidak bermimpi.

"Ayo! Gue anter lo ke dalem." Ia menggenggam lenganku dari luar.

Aku menurutinya, dan mengekor dari belakang. "Makasih ya, Re." Aku mengeratkan genggamannya, ia mengangguk dan memberikan seulas senyuman yang membuat keluar aura kecantikannya. Seseorang partner sekaligus sahabat hijrah yang selalu ada, membuatku tidak pernah hampa walaupun tidak punya kekasih. Ia adalah segalanya untuknya, "Stand by me, Renia." bisikku.

Rumahku sepi, sepertinya Ayah, Ibu dan yang lain sudah tertidur lelap.
"Masuk ke kamar lo aja ya, kayaknya udah pada tidur. Ini emang udah hampir jam 12 sih, haha." Ia berjalan menuju kamarku, dan aku pun mengekor kembali.

"Udah lo istirahat ya, good night  honey." Ia menyibakan selimut ke seluruh tubuhku.

"Makasih, Re. Lo pulang hati-hati, ini udah malem banget. Atau lo nginep aja disini ya." Aku menggenggam lengannya.

"Haha, gue biasa pulang malem. Selaw aja, iya gue pulang ya. Ada tugas kampus belom selesai."

"Yaudah, makasih ya, Re. Gue lelah banget."

"Makanya udah tidur." tukasnya, mataku memang sudah tidak bisa diajak kompromi, ia selalu ingin terpejam. "I will always be there for you, Della-chan." Dan terndengar pintu tertutup, mataku memang terpejam, tetapi otakku dan telinga ini masih berfungsi. Aku terharu mendengar perkataannya barusan.

"Arigatou Renia-chan." bisikku, dan kembali memejamkan mata.

                

- Mei Purple -
#OneDayOnePost

You Might Also Like

4 komentar

  1. Lagi" ada kemiripan haha
    Kakak bernama Dilla ade Della hihi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iyakah? Kita emg sehatiπŸ’œπŸ’œ

      Hapus

Popular Posts

Instagram