I will always be there for you

November 15, 2016

'Dua belas ribu? Apa cukup buat kerja besok? Ah, sudahlah!' batinku. Kemudian, kumasukkan dompet ke dalam tas.

Sebuah intro musik jazz mendadak terdengar dari arah meja, ponselku berbunyi, siapa malam-malam begini? Aku menghampiri dan melirik layar ponsel tertera nama Della. Ada apa dia menelponku malam begini?



"Assalamu'alaikum, ada apa, La?" hanya keheningan yang menjawab "Della, ada apa?" Terdengar isak tangis wanita di seberang sana, aku panik, khawatir.

"Renia, gue mau cerita, besok pagi kita ketemu di tempat biasa ya." suaranya parau.

Tut..tut.. Tidak sempat kubertanya namun telepon terputus. Ribuan tanya dalam benakku, resah. Terus saja aku memikirkan, apa yang harus aku lakukan?

Kemudian tanpa pikir panjang, aku mengambil kunci motor lalu pergi ke rumah Della.

"Ibu aku pergi sebentar ya."

"Hey! mau kemana? Ini udah larut malem, sayang."

"Sebentar kok, Bu." aku segera meninggalkan Ibu. Bagaimana bisa aku menunggu besok? Aku harus memastikan ada apa dengannya. Batinku.

***

"Assalamualaikum, Tante ada Dellanya?" tanyaku sambil mencium tangannya.

"Waalaikumussalam, ada di dalam masuk aja, Re. Ko tumben malem-malem maennya?"

Aku terdiam, mungkin Ibunya Della nggak tahu tentang ini, batinku.

"Ah.. Anu.. Ada sesuatu yang ingin Renia ambil Tante, hehe." Aku menyeringai, berharap Ibunya tidak curiga.

"Ohh, iya masuk aja ke kamarnya ya."

Aku mengangguk "Makasii ya, Tante." Aku segera meluncur ke kamarnya.

"Della? Ini gue, Renia. Buka pintunya dong." Kuketuk pelan pintunya, karena mungkin ia sedang pilu.

Tak lama, SsrkkK.. Pintu tak lagi dikunci, aku masuk dan menutup pintunya kembali.

"Lo kenapa, La?" ia memalingkan wajahnya ke jendela.

"Ngapain lo dateng malem-malem sih, Re? Kata gue kan besok aja," ujarnya dengan parau.

"Heh! mana bisa gue nunggu besok, abis denger lo nangis gitu, nggak bakal bisa tidur gue juga, La." Aku mendekatinya " jadi sebenernya lo kenapa sih?" lanjutku dengan rasa penasaran.

"Bokap gue berenti kerja, Re," ujarnya dengan lirih.

"Lho? Kenapa?" tukasku.

"Entahlah." Terlihat air matanya membanjir deras di pipinya tembem itu.

Tanpa pikir panjang, kupeluk tubuhnya, perlahan kuelus punggungnya. "Sudahlah, sabar, La. Mungkin Allah lagi ngasih rencana laen buat keluarga lo." Kubiarkan ia menangis di dalam pelukan.

"Dan lo tau apa yang buat kecewa banget sama bopak gue?"

"Apa?"

"Ternyata dia punya utang sama bank 25 juta, waktu itu buat usahanya dan ternyata di bohongin pula sama temennya. Sampe nyokap gue nangis, sedih karena dia itu nggak bilang-bilang," jelasnya memecahkan tangis yang mendalam.

Aku kembali mengelus punggungnya, "astaghfirullah, sabar, La. Mungkin bokap lo ada alesannya dia nggak cerita-cerita." Aku berusaha berpikir positif .

"Ya, alesannya karena nggak mau pada kepikiran dan supaya nggak di omelin," jawabnya dengan nada yang setengah tinggi. "Jadi tiap gajian dia cicil 1 juta, nah sekarang dia nggak punya kerjaan, Re!" lanjutnya kembali menangis sesenggukan.

Aku mengelusnya lagi, "lo tau ga? Dulu gua iri sama keluarga lo yang keliatannya adem, anyem nggak pernah ada masalah." cerocosku. "Lo tau kan semakin tinggi iman seseorang, maka semakin tinggi pula cobaan yang Allah beri." Lanjutku berusaha menenangkannya.

Ia terdiam, aku yakin dia sedikit tenang. "Udah nggak usah lo pikirin, gua yakin Allah lagi ngerencain sesuatu buat keluarga lo. Serahin semua sama Allah, doa, doa, doa. Yakin bahwa Allah bakal nolong kita, lakuin aja bagian kita, biar sisanya Allah yang ngatur. Yang musti kita lakuin hanya usaha dan doa. Udah itu aja." celotehku, dan ia sudah berhenti menangis. Dan kuusap air matanya itu.

"Dah ah, Della sahabat gue itu nggak cengeng kaya gini," ledekku sambil tertawa kecil.

Kita memang dua orang gadis yang dulu sangat gaul, nggak pernah ketinggalan konser barat. Selalu mengikuti style setiap zaman, ya, kita adalah fashionista. Tetapi, alhamdulilah. Sekitar dua bulan terakhir ini, kita memutuskan untuk memperbaiki diri. Kita hijrah yang dulu memakai rok mini, sekarang kita menutupnya menjulur ke seluruh tubuh. Itulah usaha kita untuk memperbaiki diri, namun sikap metal dan brutal pun masih menempel dengan benar pada kita.

Maka jangan salahkan hijabku dan agamaku, jika kita berbuat kesalahan. Karena itu memang membutuhkan proses untuk menjadi wanita muslimah sepenuhnya.

Dan proses itu begitu sulit, namun bukan berarti kita tidak bisa. Hanya membutuhkan waktu, maka hargailah sebuah proses.

"Makasii ya, Re. Maap dah bikin lo dateng malem-malem gini." Ia berhasil membuyarkan lamunanku, dan mendekapku kembali.

"Iyee, selaw aja sih, La. Jangankan malem, kapanpun dimanapun gue bakal ada kalo lo butuh gue." Aku mengelus punggungnya.

Karena kita sadar bahwa persahabatan yang sesungguhnya bukanlah yang selalu mengajak party, nonton dan lain sebagainya. Namun, persahatan sesungguhnya adalah ketika kita bisa saling mengingatkan, dan saling merangkul menuju kepada kebaikan.

"Makasii Re, makasii." Dan tak lama ia tertidur di bahuku. Aku tahu, ia sudah mengeluarkan banyak tenaga dan pikiran untuk masalah ini. Kemudian, kubaringkan ia, dan menyibakan selimut ke seluruh tubuhnya.

"Gue tau masalah ini emang berat, La. Makanya lo sampe sedih banget kaya gini. Gua pasti akan selalu ada ko buat lo. Pasti."


#OneDayOnePost

                

You Might Also Like

4 komentar

Popular Posts

Instagram