Meet You Again.

November 08, 2016

"Kita akan bertemu lagi jika kamu sudah umur 17 tahun, berjanjilah padaku." Ia mengangkat jari kelingkingnya.

Aku mengangguk dan tersenyum sambil membalas dengan jari kelingkingku.

"Jaga dirimu baik-baik ya." Ia menarikku ke dalam dekapannya, kehangatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya, membuat tak bisa mengatakan apapun. Aku hanya mengangguk di dalam dekapannya.


Kemudian ia melepaskan dekapannya dan tersenyum.

"Ucapkan sayonara (sampai jumpa) karena kita akan bertemu lagi." Ia sambil melambaikan tangan, dan meninggalkan seulas senyum yang sangat hangat.

"Sayonara Genta-kun." Aku membalas lambaiannya, saat itu aku berumur 6 tahun. Hati ini terasa terpukul, menahan mata untuk tidak membanjiri pipiku, rasanya ingin sekali meluapkan kepedihan, kepedihan akan kehilangan seseorang yang selalu ada untukku.
Apa kita akan bertemu lagi?



***

"Keiko-chan, ayah mau kamu kuliah di Indonesia bersama Pamanmu ya," ucapnya tengah menyantap makan malam.

Aku tersedak mendengar barusan yang Ayah katakan padaku. Bagaimana mungkin? Bulan depan, bulan mei tepat aku berumur 17 tahun. Aku ingin bertemu Genta-kun, aku sangat merindukannya.

"Apa? Tapi kenapa Ayah?" mataku membelalak, hati ini bagaikan hancur berkeping-keping, waktu yang selama ini kunanti, namun pupus karena aku harus pergi ke Negara Asing?

"Disana ada Universitas yang cocok untukmu, dan Ayah percaya bahwa disana tempat yang cocok untukmu."

Aku membisu, bagaimana ini? Aku tidak bisa ngebantah Ayah, tidak tega aku membantahnya. Tapi bagaimana dengan dia? Apa aku tidak bisa bertemu dengannya? Batinku berkecamukan.

"Berikan aku waktu untuk berpikir ya Ayah, gomenne (maafkan aku)." Aku bangkit dari tempat makan segera beranjak ke kamar.

Aku duduk di depan kaca terpaku pada penampilanku saat ini yang terlihat acak-acakan. Hanya terpaku melihat ke kaca, namun pikiranku melayang entah kemana.

Kamu dimana? Entah perasaan apa ini? aku sangat merindukanmu, apa kamu juga merindukanku?

***

"Ayah sudah beli tiket untuk kamu pergi ke Indonesia, jadi siap siaplah besok pagi pesawatnya akan berangkat," ujar Ayah lagi lagi membuat nafsu makanku hilang.

aku terdiam, mengaduk miso yang ada di depanku.

"Makanlah sayang, misonya nanti dingin." Aku tersentak, tak menyadari Ibu memperhatikanku.

Sesuap, dua kali suap. Namun, nafsu makanku telah hilang.

"Aku ke kamar dulu ya, Ibu, Ayah, gomenne." aku bangkit, kembali ke kamar.

"Moshi-moshi (halo) ?"

"Keiko-chan ada apa?" suara Kimiko sahabatku dari seberang sana.

"Bisa kita ketemu sekarang di tempat biasa?"

"Hae, sayonara (baik, sampai jumpa)"

"Sayonara." aku menutup teleponnya, dan segera ke Cafe di daerah Tokyo.

***

Tanganku tak henti-henti mengaduk secangkir kopi hangat di depanku. Dengan pikiran yang entah kemana.

"Hey, kenapa melamun? Ada apa sebenernya?" Kimiko menatapku dengan tajam.

"Aku besok Pagi akan pergi ke Indonesia untuk kuliah disana.."

"Apa? Kenapa mendadak sekali?" tukas Kimiko.

"Entahlah, Ayahku begitu menginginkannya."

"Lalu kamu udah ketemu Genta-kun?"

Pertanyaan Kimiko seperti sebuah bom yang membuat tak sanggup menahan tangis ini. Tak sadar, air mata ini membasahi pipi ini. Dan, Kimiko memeluk dari samping, dan mengelus bahu, ia berhasil membuatku sedikit tenang dari sebelumnya.

"Sudahlah, tenang ya." kami saling berpelukan, dan tak mempedulikan semua pandangan seisi ruangan tertuju pada kami.

***

"Cepatlah naik, pesawatnya akan berangkat," ucap Ayah, sambil mengelus pundakku. Tidak pernah Ayah memelukku sedemikian erat seperti hari ini. Pundak Ayah berguncang hebat, ada tangis dan kesedihan luar biasa yang ia tahan.

Aku hanya mengangguk. Dan, membalikkan badan segera menuju pesawat. Tiba-tiba, ada suara parau terdengar di telinga, suara yang sangat kukenal baik, suara yang selama ini kurindukan.

"Keiko-chan." Aku melihat kebelakang, ada seorang lelaki bertubuh jangkung dan berambut hitam pekat, bermata abu-abu. Kelihatan banyak perubahan namun, aku tetap mengenali siapa dia.

"Genta-kun." aku berlari menghampirinya dan memeluknya dengan erat.

"Ini janjiku kan? Tepat pada kamu umur 17 tahun. Aku sangat merindukanmu Keiko-chan. Dan aku mencintaimu, dari waktu kamu berumur 6 tahun, aku menunggumu. Watashi daisuki dakara (aku mencintaimu)."

"Apa?" aku melepaskan pelukannya, dan menatapnya lekat-lekat, mataku membelalak, jantungku berdegup dua kali lebih cepat, pipiku terasa panas, berharap tidak terlihat merah di pipi ini.

"Ya, watashi daisuki dakara." ia menggenggam tanganku, jantungku berdegup tak beraturan, terasa desiran lembut di hatiku.

"Aku juga mencintaimu, Genta-kun." kembali kuraih kehangatan itu, di dalam dekapannya membuat segalanya terasa lebih indah.

#OneDayOnePost
#tantanganODOP














You Might Also Like

12 komentar

  1. Balasan
    1. Gatausi katik wkwk sebisa iput ae lah haha

      Hapus
  2. Balasan
    1. Haha ngga ko iput satuin lagi mereka kasian wkwk

      Hapus
  3. Suit suiit iput chan...bagus puut :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha bunda bisa aja.. Makasii bunda yang lebih bagus😍

      Hapus
  4. Emosi? Perasaan ga emosi lho ka. Wkwk

    BalasHapus
  5. Duh baper eh laper ... ahahha

    Kerennn Iput cerpen nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha kata iput kan juga ati ati baper wkwk

      Hapus

Popular Posts

Instagram