Mungkinkah?

November 28, 2016

Aku terdiam, mengaduk secangkir coklat hangat yang nyaris dingin dengan tatapan menerawang. Menunggu seseorang yang telah lama tak berjumpa, rindu yang sangat menggebu hati ini.

"Maaf gue telat, udah nunggu lama ya?" ucap seorang Lelaki bertubuh jangkung, bermata abu-abu. Membuyarkan lamunanku, aku tertegun. Melihat perubahan yang terjadi padanya.



"Hey! Renia, apa kabar? Ini gue Elang." Aku terkesiap, dan pipiku memanas; malu.

"Ah, maaf. Nggak ko, Lang. Gue baru dateng." Lengan kananku mengangkat memanggil salah satu waiters disini.

"Silahkan." Wanita yang berparas menarik menghampiri dan menyodorkan menunya.

"Lo mau apa? Pesanlah pasti haus kan?" Aku pun mengalihkan pandangan ke kanan, dari kaca bening terlihat kendaraan yang lalu lalang. Dan keriuhan bunyi klakson khas Jakarta. Di tengah Cafetaria di kawasan Sunter.

"Cappucinno latte aja, Mba." Ucapan Elang membuyarkan lamunanku.

"Apa kabar dengan kuliah lo, Re?" tanya Elang, dengan tatapan serius.

"Berjalan dengan lancar, bagaimana dengan kuliah lo di New York? Lalu apa kabar dengan iman lo saat ini?" tanyaku membalas tatapannya setelah menengguk coklat. Ia adalah teman kecilku, yang selalu mengingatkanku untuk pergi ke pengajian bersama-sama, mengajak ke Masjid terbesar di Jakarta. Sejak lulus SMA, ia mendapatkan beasiswa untuk pergi ke New York, sekitar 3 tahun kita tak pernah kembali bertatap muka.

Ia tertawa kecil, "Kuliah gue baik, iman gue mungkin yang turun. Hanya melakukan salat aja, dan nggak pernah sempet lagi dateng ke kajian." Wajahnya memelas.

"Silahkan." Wanita menghampiri bangku kami, meletakkan secangkir cappucino latte.

"Makasih, Mbak." Elang terdiam, fokus mengaduk-aduk cappucinonya dengan tatapan menerawang. Aku tahu, kemampuan dalam membaca pikirannya sudah kukuasai dari dulu. Bahwa ia tengah mengalami sesuatu yang sulit saat ini.

"Lang! Jangan ngelamun dong." Aku menyeruput coklatnya kali ini hingga tandas.

"Gue mau menulis yang bisa menginspirasi semua orang, Re." Tatapannya masih sama; ke arah secangkir minumannya.

Mataku membelalak, dan tersedak. Dulu ia bukan seseorang yang suka menulis, bahkan membaca sebuah buku bobo saja ia tak mau. 'Mungkinkah sesuatu yang telah besar terjadi, membuat ia ingin sekali menuangkan kegundahannya ke dalam tulisan?' batinku.

"Sejak kapan lo suka nulis, Lang?" Mataku menatap tajam ke arahnya, menantikan jawabannya agar aku tahu apa yang sebenernya terjadi padanya.

Instrumen musik jazz tiba-tiba terdengar, Elang langsung merogoh kantongnya.

"Halo, baiklah. Aku akan segera kesana." Suaranya dengan nada panik, berbicara dengan suara seseorang di seberang sana.

"Ada apa, Lang?"

"Gue harus balik, sorry ya, Re. Ada sesuatu hal yang mendesak, sorry, ayo biar lo gue anter pulang."

"Nggak usah, gue bisa pulang sendiri kok." Seulas senyuman kuberikan.

"Yakin?"

Aku mengangguk.

"See you, Re."

"Yaa, see you, take care, Lang."

Ia mengangguk, dan pergi. Aku mematung, menatapnya hingga menghilang. Kemudian, aku ingat ini sudah larut. Ketika mataku menatap ke bawah, sekilas di bawah kursi Elang tadi terdapat secarik kertas terlipas berbentuk kotak kecil. Kemudian, kuambil dan memulai membuka dan terlihat tulisan.
"I miss you so much, i wanna marry you, please understand what i feel. Please, waiting for me."

Lututku lemas, jantung ini berdegup lebih cepat, terdapat desiran lembut di hatiku. Untuk siapa ini?




#OneDayOnePost
#TantanganODOP

You Might Also Like

6 komentar

  1. Balasan
    1. Aamiin, makasii kawid yang lebih keren.. Hihi

      Hapus
  2. Typony kok kyakny gx ada...keren iput tlisanny..pasti dikumpulin dulu diotak baru dtlis..hehee..just kidding

    BalasHapus
  3. Tanpa editing, tapi bagus put :)

    BalasHapus

Popular Posts

Instagram