Perjuangan Keiko - Part 2

November 07, 2016

 Pagi ini tidak seperti biasanya Ibu tidak membangunkanku. Segera saja ku tengok Ibu dikamarnya . Kulihat ia meringkuk diatas kasurnya dan berselimut tebal.

"Bu, ibu kenapa?" Tanyaku sambil memegang keningnya yang terasa sangat panas saat telapak tanganku menyentuh keningnya.



"Ibu gak apa-apa kok. Nanti istirahat sebentar juga sembuh" ujar Ibu menenangkan diri.

"Hemm, yasudah kalau begitu kedai hari ini tidak usah buka ya, Bu."

"Jangan, Ibu minta tolong kamu buka kedai saja ya. Kamu bereskan peralatan nya begitu demam Ibu turun, Ibu akan segera ke kedai. Yang penting kedainya di buka dahulu"

"Tapi, Bu..."

"Kamu pasti bisa" Ibu meyakinkanku.

Aduh bagaimana ini?? Aku takut bagaimana kalau ada pembeli nanti dan Ibu belum datang?? Aku melangkahkan kaki dengan berat menuju Kedai dengan tatapan kosong dan berharap tidak akan ada pembeli sampai Ibu datang.

 Aku memulai membereskan meja-meja di Kedai, dan menyiapkan bahan mentah yang sudah ada di dalam kulkas. tiba-tiba sekumpulan anak sekolah datang, yah aku tahu mereka adalah pelanggan yang sering datang kesini.

 Aku duduk terpaku melihat bahan-bahan mentah yang sudah kusiapkan. 'Bagaimana ini? Aku kan belum selezat buatan Ibu.' batinku. aku mulai mencacak bahan-bahan, dengan lengan yang berkeringat, kakiku gemetar hebat hingga menjalar ke ubun-ubun. 'Abis ini apa lagi ya? Ini? Ah bukan yang ini, aduh yang mana yaa?' pikiranku kacau balau.

 Kemudian kujatuhkan badan ini bangku, 'Baiklah ambil nafas dalam-dalam, lakukan dengan baik. Jangan panik, Keiko-chan. Menggunakan hati, yah. Aku pasti bisa!! Ganbatte (semangat).' bisikku, kemudian bangkit dan memulainya dengan semangat. Dan yakin bahwa rasanya lezat.


Sejam kemudian Kedai sudah ramai pengunjung. Aku sedikit keteter, tetapi aku yakin bisa menanganinya.

"Silahkan.." ucapku sambil menaruh menu yang dipesan pelanggan.


"Wah miso hari ini berbeda dengan yang sebelumnya.." ucap perempuan sebayaku yang sering berkunjung kesini, sambil menyeruput kuah miso.

"Apa? Bagaimana rasanya? Iya itu aku yang membuat, Ibu sedang sakit," aku sedikit gemetar, takut rasanya tidak selezat Ibu.

"Oishidesu (lezatnya)..."

"Benarkah?" aku menatap tak percaya, tapi syukurlah.

"Iya, lebih enak dari yang sebelumnya, " ucapnya dengan mata yang berbinar-binar dan senyuman yang merekah.

"Arigatou gozaimasu.." aku tersenyum bahagia dan membungkukkan punggung, dan kembali ke Dapur.

Kring..kring.. Ponselku berbunyi, dengan cekatan aku mengangkat dan menyampitkannya di antara bahu dan dahiku.

"Moshi-moshi? (Halo)"

"Keiko-chan, apa Ibu sakit?"

"Iya, Kak. Dari mana kau tahu?"

"Feeling aja, lalu siapa yang membuat miso? Apa aku harus ijin dulu hari ini, membantumu di Kedai?"

"Tidak, jangan Kak, aku bisa menanganinya."

"Apa kau yakin?"

"Haii.."

"Baiklah,"

 Aku menutup teleponnya, dan melanjutkan membuat masakan dengan sangat cekatan, karena semakin siang pengunjung semakin padat. Hari ini aku merasakan bahagia yang tak bisa tergambarkan, pelanggan bilang kalau misoku lebih lezat dari Ibu. Akhirnya, aku bisa membuat miso selezat Ibu.

"Wahh,, Kedai kira hari ini bisa seramai ini," ujar Ibu dari belakang membuatku tersentak, mata Ibu terlihat berbinar-binar dengan senyuman merekah.

"Ibu sudah sembuh kah?"

"Iya sayang, Ibu sudah lebih baik karena sudah istirahat tadi. Jadi kau berhasil membuat miso shiru yang lezat kan?"

"Sepertinya.. Aku hanya membuat sesuai dengan apa yang sudah Ibu katakan padaku, termasuk pake hati bu. Haha.." kami pun tertawa bahagia hingga lupa banyak Pengunjung menunggu pesanannya.

"Hey, ayoo kita lagi memasak bersama, pesanan pasti numpuk kan?" Ucap Ibu dengan tertawa dan melanjutkan mencacak bahannya.

"Ah iya, aku hampir melupakannya haha.." kataku sambil mengaduk miso yang hampir matang.

Sekitar tiga jam berlalu, pengunjung sudah mulai menghilang satu persatu. Hanya ada tiga pengunjung yang tengah menyantap pesanannya. Sehingga aku dan Ibu bisa duduk santai sementara.

"Keiko-chan?" aku tersentak mendengar sapaan Ibu.

"Iya Bu?"

"Ibu sudah liat hasilnya kamu sudah sangat berusaha dengan baik. Jadi, Ibu tidak akan memaksamu lagi untuk kuliah. Ibu akan mendukung setiap rencanamu,"  jelas Ibu, membuatku speechless tidak percaya.

"Ibu serius?" tanyaku dengan mata berbinar-binar.

"Tentu sayang, Ibu yakin kamu bisa melakukannya tanpa harus kuliah," ucapnya dengan senyuman yang sangat hangat layak matahari yang memberikan kehangatan ke muka bumi.

"Arigatou gozaimasu. (Terimakasih)" ucapku sambil mendekapnya dengan erat, seperti biasa rasanya tidak ingin kulepas. Pelukan hangat yang bisa membuat segalanya menjadi indah dalam sekejap, dan aku tenggelam dalam kehangatan itu. Sangat bahagia...

 Aku menjadi teringat pesan Tou-san (Ayah) 'Keiko-chan, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Jadi ganbarimasu (semangat) !!' itu kata-kata yang selalu terpatri di hatiku. Watashi wa daisuki dakara Tou-san (aku mencintaimu Ayah) .. Anata koishi desu (Aku merindukanmu)

#OneDayOnePost

You Might Also Like

2 komentar

Popular Posts

Instagram