Sebuah Kebetulan?

November 09, 2016

'Dua ribu lima ratus, gimana cara pulang?' batinku sambil merogoh kantong dan menggoyah-goyah dompet.

Sore ini kota Bandung terlihat padat kendaraan seperti biasanya, aku mendapatkan shift Pagi sehingga Sore begini sudah bisa pulang tempat kerjaku di sebuah Supermaket.'Baiklah aku harus jalan kaki, nggak jauh ini kostan', batinku. Karena ini masih tanggal muda, dompet pun kering dan tandus bagaikan rumput di musim kemarau.



Aku berjalan di pinggiran trotoar, tak mempedulikan pandangan aneh orang yang sesekali memandangku, aku hanya ternggelam dalam putaran lagu 'Back to Desember' menggunakan headset dengan volume hampir full.

Tiba-tiba saja ada lelaki dari ujung jalan sana yang berlawanan arah denganku, ia melihatku dan melipir ke arahku.

'Siapa dia? Mungkin seseorang yang ingin bertanya jalan'. Batinku. Namun, ketika ia membuka helmnya ada perasaan aneh di benakku, entah perasaan apa ini.

"Renia kan?" seorang lelaki sebayaku, memiliki bola mata biru, tinggi dan berkulit sawo menghampiriku, aku hanya membisu. 'Darimana dia mengenalku?'

aku hanya mengangguk-angguk, dan mengingat-ingat siapa dia. Yah, memang terlihat familiar, bahkan sangat begitu mengenalnya.

"Kamu inget saya kan?"

'Deg' ketika lelaki itu mengatakan 'saya' tenggorokan tetiba tercekat, jantung ini berdetak dua kali lebih cepat. Apa-apaan ini, dia adalah lelaki yang dulu mengacuhkanku, kenapa sekarang begini? Batinku.

"Ah, i..iya.. Kau kak Elang ya?" jawabku dengan sedikit gemetar, semoga saja ia tak melihat gemetar yang luar biasa terjadi di hati ini.

"Haha, syukurlah. Saya pikir kamu lupa, ayo ikut saya, kita ngobrol sebentar."

kepalanya menggeleng-geleng mengisyaratkan untuk segera naik. Namun, aku menurutinya begitu saja seperti tengah terhipnotis olehnya.
aku terpaku menatap punggungmu, jantung masih belum bisa berdetak normal, jantung ini semakin tak karuan. 'Ini seperti mimpi, apakah kota Bandung kali ini berpihak kepadaku?'

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Instagram