What Happen?!

November 16, 2016

"Hey Re, melamun aja mikirin apa sih?" ucap Della, di sebuah Sevel Eleven daerah Bugis.

"Nggak apa apa, La," jawabku singkat, sambil menyeruput secangkir gelas cokelat hangat di depanku.



"Lo pasti mikirin dia ya?" tanya sambil menyeringai.

"Siapa? Ya nggak lah. Ngapain juga mikirin dia?" jawabku dengan sinis

"Haha.. Gue itu tau kalo lo lagi boong, Re." Sambil mengunyah roti coklat yang ada di tangannya.

Mataku mendelik, "Dasar sotau."

"Kemaren kan? Gara-gara lo semobil ama dia? Iya kan? Jujur aja, Re."

"Hmm, nggak juga sih, La."

"Tapi kenyataannya lo belom bisa move on kan dari dia?" sambil bangkit dan pergi membawa cangkirnya yang kosong.

Aku mendengus. 'Tapi iya, apa yang dikatakan Della itu benar, aku belum bisa sepenuhnya melupakan dia.' batinku, kembali menyeruput secangkir cokelat yang nyaris dingin.

***

"Neng tolong bilangin Pak Gurunya ya, minta uang Tol gitu," kata abang supir di sebelahku.

Aku mengangguk dan bangkit mencari dimana Pak Guru itu duduk. Namun, Pak Guru duduk di kurai paling belakang, dan yang ada hanyalah dia, awalnya aku tidak mau menyapanya, tidak sanggup.

"Kak Elang.. Tolong bilang Pak Dadang, minta uang Tol gitu," ucapku akhirnya, ia menoleh ke arahku. Hanya menoleh dan berfokus pada apa yang aku minta, bahagia tak terkira, jantungku berdegup tak berirama.

Aku memutar badan, dan menjatuhkan tubuh ini di kursi. Berharap, ia tidak melihat jika aku bahagia seperti tengah terbang di atas Langit.

"Kakak, ada apa?" pertanyaan Anggi, salah satu Anak bimbingku.

"Ah, tidak.." aku membisu, malu, senang, bercampur aduk. Berusaha biasa saja saat ini, bahkan anak SD pun menyadari bahwa aku tengah merasakan kebahagiaan yang tak tergambarkan, atau terlihat merah di raut wajahku? Entahlah..

***

"Sudah, ayo kita pulang! buat apa lo disini melamun terus, Re." Della berhasil membuyarkan lamunanku, dan menarik lengan ini dengan cepat.

"Pelan-pelan dong, Re." aku melepaskan genggamannya.

"Abis, bete gue! Lo ngelamun mulu!" Ia berjalan meninggalkanku.

"Maaf, maaf.." Aku segera menyusul langkahnya di belakang.

Kami pun pergi dari Seven Eleven, Della mengantarku hingga depan Rumah, menggunakan mobil Sedan berwarna Merah warna kesayangannya.

"Mampir dulu yuk, La"

"Nggak deh, Re."

"Lho, kenapa?"

"Gue besok kuliah Pagi."

"Hmm, yaudah. Gue masuk ya, hati-hati lu, La."

Ia mengangguk. Dan pergi.

Ketika aku hendak membuka pintu ada suara memanggilku dari belakang.

"Renia.."

Kupikir itu Della yang mungkin lupa sesuatu. Namun, dugaan ini salah. Kaki gemetar, mataku membelalak, jantung ini berdegup tak karuan.
Ada apa? Kenapa dia ada disini?


#OneDayOnePost

                     

You Might Also Like

2 komentar

  1. Dia memang selalu membuat hati bergetar. Untung hati didalam tubuh...coba kalau diluar...pasti malu banget ya...

    BalasHapus

Popular Posts

Instagram