Cerbung - Who are You? ( The End )

Desember 09, 2016


                     

"REZAAA!! Tolongg.. Panggil ambulan, cepatlah. Kumohon!!" Kepala Reza kuletakan di tangan, kugoyah-goyah tubuhnya. Air mata mengalir deras membanjiri pipi ini.

Tak lama, ambulan tiba, dan aku memaksa untuk ikut masuk ke dalam mobil. Kugenggam tangannya, berharap ia bisa bertahan 'bertahanlah, Reza. Bertahanlah..' bisikku dalam hati.



***

Aku terpaku, menatap dari kaca pintu kamar Reza. Berbaring tak berdaya, sudah hampir tiga hari ia koma; tak sadarkan diri. Aku khawatir, sangat merasa bersalah.

"Duduklah, Re," ujar Lucy, yang sedari tadi menemaniku di rumah sakit.

Aku pun duduk, diam, lututku lemas, jantungku melemah, tubuh masih terasa bergetar; takut dan khawatir, "ini semua salahku, Luce," ucapku dengan lirih.

"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Ia mengelus bahuku dan menarik ke dalam dekapannya, "bagaimana jika terjadi sesuatu pada Reza, Luce? Aku takut, aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya," bisikku di  dalam dekapannya.

"Semua akan baik-baik saja, percayalah." Ia mengelus bahuku kembali.

Suara instrumen jazz memecahkan kesunyian di sudut ruangan rumah sakit, aku segera membuka tas, terdapat panggilan di ponselku "Ayah".

"Halo? Ada apa, Ayah?"

"Ayah sedang dirawat di rumah sakit sayang, bisakah kau pulang sekarang? Ayah membutuhkanmu." Suara Ayah dari seberang sana.

"Apa? Ba.. Baik Ayah, aku akan segera pulang."

"Hati-hati ya sayang."

"Baik Ayah." Aku menutup teleponnya.

"Siapa? Ada apa dengan Ayahmu?" Lucy mengcengkram bahuku.

"Ayahku sedang dirawat di rumah sakit, Luce," jawabku dengan lirih.

"Apa? Sudah cepatlah pulang. Ayahmu membutuhkanmu, Re."

"Tapi, Luce.."

"Biar aku yang menjaga Reza, percayalah," tukasnya dengan tatapan mantap, agar bisa meyakinkanku.

Aku pun segera pergi ke bandara untuk kembali ke Indonesia, semenjak Ibu sudah meninggal, aku selalu menemani Ayah. Sehingga tidak pernah tega jika keadaan ia seperti ini, namun aku tidak ada di sampingnya. Saat ini, kekhawatiranku memuncak.

***

"Ayah, bagaimana keadaanmu?" Aku muncul dari luar, dan lari masuk melihat keadaan Ayah yang berbaring tak berdaya ditemani sebuah monitor, selang selang mengelilinginya, dan bau kimia yang beterbangan.

"Ayah sudah membaik, sayang. Syukurlah kamu cepat kembali, Ayah hanya merindukanmu. Maafkan Ayah ya, membuat kamu menjadi harus kembali cepat." Ayah menggenggam hangat tanganku.

"Ayah... Sudahlah, ini bukan salahmu. Sekarang yang penting Ayah harus cepat sembuh, agar bisa cepat pulang ya." Tanganku membalas genggamannya.

"Ayah sudah bisa pulang kok, sayang."

"Benarkah?" Mataku membelalak, dan bahagia itu artinya Ayahku benar-benar sudah sehat dan pulih kembali.

"Iya benar, Ayahmu sudah boleh pulang, nona." Seorang lelaki mengenakan jas putih berjalan dari ambang pintu.

"Wah, terimakasih ya, Dokter."

Kami pun bergegas kembali ke rumah.

***

Aku menatap rindu kamar yang tidak begitu luas, yang bercat ungu dan terdapat hiasan bunga sakura di tiap sudut ruangan. Sesekali kembali mengingat kenangan, sederatan buku novel yang selalu diberikan olehnya. Yang selalu mendukungku, untuk tak pernah patah semangat menjadi seorang penulis. Namun, kini tinggal kenangan, kau pergi entah kemana, menghilang begitu saja. Kenangan tentangmu masih tersimpan rapi di memoriku, berharap sebuah keajaiban datang menghampiri.

"Nyonya Renia, ada seseorang mencarimu." Suara ketukan membuyarkan lamunanku, 'seseorang? Siapa? Aku belum mengkabari siapapun kalau sudah di Jakarta. Lalu siapa?' batinku.

"Iya, Mbok. Tunggu sebentar." Aku segera membuka pintu kamar, dan ke depan untuk memastikan siapa yang datang.

Seseorang lelaki bertubuh jangkung memakai kemeja kotak-kotak membelakangiku, dari punggungnya mengingatkan tentangnya.

"Kau siapa?" ucapku dengan lirih dan terbawa embusan angin.

Ia menengok, dan menarikku ke dekapannya. Aku membisu, perasaan apa ini? Terdapat desiran lembut di hati ini. Siapa dia sebenarnya?

"Kau baik-baik saja, Reza?" tanyaku sekali lagi.

"Maafkan aku." Suara lembut terbawa angin, aroma vanilla itu selalu tercium dengannya.

"Apa?" aku melepaskan dekapannya, dan menatapnya dengan tajam.

"Aku mengalami kecelakaan di Jakarta sebelum ke New york, membuatku amnesia dan harus operasi muka, karena muka ini hancur saat itu. Dan Ibu Kevin yang menabrak, sehingga ia mengangkatku sebagai anaknya, untuk menebus kesalahannya. Itulah alasan mengapa aku begitu nyaman di Jakarta, dan tak mengenalmu. Maafkan aku, Renia. Semoga kau mau memaafkanku," tuturnya, membuatku terpaku. Hati ini senang, kecewa. Batinku begitu berkecamuk.

"Aku sudah merasakan bahwa kau adalah Elang yang selama ini menghilang," ucapku akhirnya, air mata ini menumpuk di pelupuk dan di sudut-sudut mataku.

"Kau mengenaliku? Bagaimana bisa?" tanyanya membuatku mendengus kesal.

"Dasar bodoh." Aku memukulnya dan tanpa sadar tetesan air mengalir hangat di pipiku, "Tentu saja, aku sangat mengenalimu, dari aroma khasmu. Walaupun kau mengubah wajahmu itu, dasar bodoh," ucapku dengan nada lirih.

Ia menarikku kembali ke dalam dekapannya, "Maafkan aku, kumohon. Maafkan aku.."

Semilir angin berhembus manja membuat kami semakin menikmati kerinduan yang selama ini tak tertuahkan, ternyata keajaiban ini terjadi kepadaku.


                         ~TAMAT~



#OneDayOnePost
#TantanganODOP

You Might Also Like

10 komentar

  1. Iiih Iputt kok udah selesai lagi cerbungnya?? saya aja belum bikin... hiks hiks... Keceee euy cerbung Iput..Top dah! Put btw saya gak bisa komen pakai nama Tita biasanya bisa kok ini ada pilihannya? jadi gak bisa komen langsung...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pilihan gmn bun? Duh kenapa yak😨
      Aamiin bun, masih berantakan nih cerbung wkwk

      Hapus
  2. Latar, setting dan kondisi pemainnya kurang ngena, kak. Lompat an waktunya juga kurang alus...

    Hihihi disuru kritik kan yaaa������ tapi ide ceritanya menarik kak. Kelembutan di dalam ceritanya juga mampak. Saya sukaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lembut apanya ka wkwk


      Makasii yakk💜💜

      Hapus
  3. Jangan lupa jalan jalan ke web saya yaahh...
    Mengupas tentang kepenulisan loo di honeydew-author.com
    Hannydewanti.com

    BalasHapus
  4. Wow...udah tamat...pnyaku belum nih...hehee...nice cerbung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangatt kaa..

      Ahaha cerbung gajelas inimah~

      Hapus

Popular Posts

Instagram