Cerbung - Who are You?

Desember 05, 2016

                      


"Pesawatnya akan segera berangkat, cepatlah, sayang." Ayah mendekapku dan mengecup kening sebagai tanda perpisahan.

"Baik, Ayah. Aku akan merindukanmu."

"Tentu, hubungi Ayah jika kamu udah sampai, belajarlah yang rajin ya, sayang."



"Baik, Ayah." Aku pergi dan melambaikan tangan. Aku menahan gemuruh kesedihan di hati, tetapi tak bisa kubendungi.

Aku sudah berjalan nyaris setengah perjalanan, lalu aku memutarbalikkan badan; berlari dan kembali meraih pelukan dari Ayah, "Ayah.." Air mataku mengalir deras membanjiri pipi ini.

"Jangan menangis, sayang. Kamu nggak boleh cengeng, kamu harus kuat." Tangan Ayah mengelus bahuku dengan lembut.

"Ayah, aku nggak mau membiarkanmu sendirian," ujarku dengan lirih.

"Kan ada si Mbok, tenanglah. Ayah akan baik-baik aja kok, sayang. Kamu harus fokus disana ya."

Aku mengangguk dan tenggelam dalam kehangatan dekapannya, akhirnya microfon berbunyi dan memberitahukan bahwa pesawat akan segera berangkat.

"Cepatlah pesawatnya mau berangkat, Ayah yakin kamu bisa, sampai jumpa, sayang." Ayah mencengkram bahuku.

"Sampai jumpa, Ayah." Dengan berat hati aku melangkahkan kaki ini menuju pesawat tanpa menengok kembali, karena aku tak sanggup, pergi meninggalkannya sendirian.

***

Mata ini menatap liar, mencari tempat duduk sesuai nomor tiket yang ada di genggaman, akhirnya dapat kursi yang di dekat jendela, dapat. Kemudian, aku memasang earphone. Dan mulai terputar lagu Justin Bieber - dont let me down. Tiba-tiba ada lelaki sebaya denganku duduk di sebelah, ia bahkan tak sedikit pun menoleh kearahku, sekadar memberi seulas senyum. 'Sombong sekali dia' batinku.

Aku tertegun. Sesekali embusan angin membawa sebuah parfume masuk ke lubang hidungku, parfume Vanilla. Parfume yang mengingatkanku tentangnya. 'Siapa dia? Apa dia adalah Elang lelaki yang selama ini hilang entah kemana?!' pikirku.

Lelaki berambut hitam legam, berkulit putih, bermata abu-abu terkesan ada kehangatan di dalamnya, dan, terlihat pesonanya begitu menarikku.

"Hallo, Nona? Apa kamu baik-baik aja?"

Aku terkesiap, tak menyadari bahwa ia tahu tengahku perhatikan.

"Ah.. Nggak apa-apa, maafkan aku." Aku langsung mengalihkan pandangan ke pangkuanku terdapat buku novel yang sudah sedari tadi kugenggam.

"Kamu suka membaca Sherlock Holmes, ya?"

"Haha, iya. Aku sangat menyukainya."

"Ah, iya. Kenalkan namaku Reza." Ia menyodorkan tangan kanannya dan memberikan seulas senyuman.

"Renia.." Aku membalas jabatannya dan juga memberi seulas senyuman.

"Senang bertemu denganmu." Senyuman itu begitu manis dibuatnya.

"Aku juga." Aku tersenyum.

Kemudian, hening. Sibuk dengan dunianya masing-masing.

***

Pesawat baru saja mendarat. Embusan angin membelai lembut wajah ini. Kupejamkan mata, aroma kota New York, kini begitu menyambutku.

"Renia.." Suara yang sangat kukenal dari ujung sana.



Bersambung ...

#OneDayOnePost
#TantanganODOP

You Might Also Like

6 komentar

Popular Posts

Instagram