Lelaki Tangguh

Januari 10, 2017

Seusai melaksanakan shalat ashar, aku memutuskan untuk duduk di kursi besi di depan gedung Rumah Sakit. Mencoba menghirup udara segar, sedari tadi sesak oleh bahan kimia obat-obatan yang menyergap di seluruh ruangan.

Aku menghembuskan napas panjang, hembusan angin membelai mesra wajah ini. Dan mengibarkan jilbab lebar unguku, perlahan kupejamkan mata ini. Menikmati sambutan angin dan gemirisik dedaunan yang menari bersama angin, juga tidak mengacuhkan orang-orang yang lalu lalang di hadapanku.



"Kenapa kamu disini?"

Suara lelaki menyapaku, membuat aku membuka mata, dan menoleh ke arah sumber suara. Lelaki berkulit kuning langsat, memakai jaket hitam. Sangat elegan. Ia bersandar di kursi sebelah, menatap ke langit, tanpa menoleh ke arahku.

"Aku hanya ingin mencari udara segar." jawabku singkat, tidak begitu mempedulikan siapa dia. Mungkin hanya lelaki yang tengah gundah sepertiku.

"Liatlah! Burung itu. Ia melakukan apa yang ingin dilakukannya, berlabuh kesana kemari. Sesuai kata hatinya. Tanpa harus mempedulikan sesuatu menghadang disana. Karena untuknya, hanyalah bagaimana agar menjadi burung yang tangguh!" celotehnya tanpa menoleh ke arahku.

Aku tertegun oleh perkataannya. Dan memperhatikan wajahnya yang begitu tenang.

"Apa itu artinya kamu ingin bebas seperti burung?" tanyaku begitu penasaran.

"Tidak juga. Hidup ini harus dan selalu ada aturan, agar segalanya terarah. Aku hanya ingin belajar seperti burung yang tangguh. Tetap kuat walaupun ia sudah terbang dengan jauh."

Aku menyerngitkan dahi. Bahasanya membuatku harus berpikir keras, orang yang menyebalkan!

"Darimana kamu berasal?" tanyaku sembari menoleh ke arahnya. Tetapi, nihil. Hanya hembusan angin yang menjawab. Kapan ia pergi?


#OneDayOnePost

You Might Also Like

1 komentar

Popular Posts

Instagram