Hamparan Biru

Juni 09, 2017




Wahai Langit, bolehkah aku bertanya padamu?

Tidakkah kau lelah selalu mengantarkan matahari untuk selalu memberikan teriknya.
Tidakkah kau lelah selalu mengantarkan bulan untuk selalu menerangi.
Tidakkah kau lelah selalu mengantarkan hujan untuk selalu menyirami bumi?
Juga mengantarkan bintang agar kau tidak kesepian?

Mungkinkah ada jawaban akan semua pertanyaanku?

Wahai Langit, aku ingin tahu sesuatu darimu.
Bagaimana agar menjadi ciptaan yang selalu taat?
Bagaimana agar menjadi ciptaan yang selalu bersyukur?
Bagaimana agar menjadi ciptaan yang tidak pernah mengeluh sedikit pun?

Wahai Langit, aku mengagumimu.
Kamu selalu memberikan pagi untuk membuat para manusia bersemangat menjalani awal hari.
Kamu selalu memberikan siang untuk membuat para manusia bersemangat untuk terus berjuang di siang hari.
Kamu selalu memberikan malam untuk membuat para manusia bersyukur hari ini berjalan dengan lancar.
Kamu begitu taat pada-Nya.
Kamu tidak dendam karena kita terkadang mengabaikanmu.

Kita terlalu sibuk, wahai Langit.
Kita terlalu sibuk, hingga lupa pagi telah mengetuk pintu.
Kita terlalu sibuk, hingga lupa kalau siang telah menyinari.
Kita terlalu sibuk, hingga lupa kalau malam selalu menentramkan.

Maafkan kita, wahai Langit.
Kita hanya terlalu sibuk dengan segala hal tentang dunia.
Sehingga kita lupa padamu yang tanpa lelah menyelimuti.
Disiplin dengan jadwalmu.
Tanpa keluh sedikit pun

Maafkan aku, dia, dan kita para penduduk bumi, Wahai Langit yang terhampar luas namun tidak ada rasa lantam tersimpan.

You Might Also Like

2 komentar

Popular Posts

Instagram