Kebahagiaan yang Sesungguhnya

Juni 15, 2017


Taked by Mei Purple



Aku terduduk di pelataran Masjid yang sudah tidak asing lagi bagiku. Menunggu hingga kantor yang berada di sudut Masjid itu sepi oleh orang-orang yang tengah mengantri untuk setoran. Ya, disitulah tempatku berjuang untuk selalu menebar kebaikan.

“Re, lo nggak ada pikiran mau pindah dari tempat ini? Bukan hanya kerjaannya yang membosankan, tapi juga lo nggak akan bisa kuliah kalo lo terus kerja disini,” celoteh temanku--Lala, aku tersentak karena ia tiba-tiba muncul.

“Gini ya, La. Lazis ini bukan tempat yang pas buat kita yang milih hanya dalam hal materi…”

“Tapi, nyatanya hidup ini perlu materi, Re!”Ia menyela pembicaraanku,”Gue cuman mau lo sadar mulailah berpikir material, Re!” ia bangkit, dan pergi meninggalkanku sendirian.

Tiba-tiba saja angin berhembus, membuat jilbab lebar unguku menyibak berkibar bak bendera. Aku tertegun, dan mulai teringat kesedihan ketika Ibu yang selalu saja menyuruhku untuk pindah pekerjaan segera. Aku menunduk lesu. Sedih. Ya, kuakui perkataan Lala itu semua benar. Tidak bisa kupungkiri, Ibu terus menerus menekanku agar bisa mencari pekerjaan yang lebih baik lagi. Ah, tidak lebih tepatnya yang pendapatannya lebih besar. Pertanyaan yang selalu terbesit di benakku `Untuk apa gaji besar, jika tidak berkah? Astaghfirullah` Karena sejatinya, inilah pekerjaan yang terbaik yang pernah kulakukan.

***

Aku terduduk. Menu masakan Ibu yang sederhana, namun sangat mampu menggoda siapa pun yang memandangnya. Adzan magrib pun berkumandang. Dan mulai menyantapkan dengan lahap. Aku sangat menikmati moment ini dengan bahagia. Karena nyaris tiga hari berturut-turut aku tidak buka puasa di Rumah. Mulai dari rapat kepanitiaan komunitas, santunan anak yatim, dan masih banyak lagi.
“Renia sayang,” ujar Ibu, membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya.

“Setelah Ramadan apa kamu masih ingin di Lazis?” Jleb. yaAllah, pertanyaan ini lagi. Aku terdiam.

“Iyak, Bu. Dan bisa disambi sama kuliah tahun ini, InsyaAllah.” Aku memberikan seulas senyuman,”Aku ke kamar dulu ya, Bu. Ingin salat magrib.” Aku beranjak pergi, tanpa menunggu jawaban Ibu.

Aku melangkah ke kamarku, dan membuka lalu menutup pintu kembali rapat-rapat. Aku bersandar lesu di balik pintu, dan bulir hangat mengalir deras di pipi ini. Kurapatkan kedua telapak tangan ke mulut, agar tidak ada yang mendengar tangisanku. Tangis ini pecah. `Astaghfirullah…`

Ternyata tangisku berlanjut, di atas sajadah berwarna merah aku. Lagi, lagi sesenggukan. Entahlah. Aku pun tidak mengerti mengapa hati ini terasa begitu tersayat oleh pertanyaan Ibu itu.
Seusai menghapus air mataku, aku merebahkan badan ke atas tempat tidur. Dan memandangi langit langit kamar yang bercat ungu, terdapat hiasan bergambar bunga sakura di setiap sudutnya. Yang membuatku terasa begitu menyesakkan adalah, pernahkah kalian merasakan keinginan kita yang tidak mendapatkan dukungan dari seorang Wanita yang paling kalian cintai? Itulah yang saat ini kurasakan, begitu menyesakkan. Terasa bulir hangat mengalir lagi, dengan segera kuusap. Antara aku harus mengikuti perkataan Ibu, atau mengikuti kata hatiku? Entahlah.

***

“Assalamu`alaikum, Re. Maaf ya, kejadian kemarin.” Lala berada di sampingku, seusai acara pertemuan tiap duta zakat pada hari sabtu.

“Wa`alaikumussalam, La. Nggak apa-apa kok.” Aku memberikan seulas senyuman padanya.

Lala mendelik,”Gue nggak akan tergoda sama senyuman manis lo itu, La!” Kami pun tertawa bersama.
“Btw, Re. Apa sih yang buat lo betah di Lazis ini?”

“Gini, La. Lo waktu training ikut nggak? Yang ke panti, terus yayasan itu?”

“yang di Cilincing itu ya, Re?”

That`s right! Lalu apa yang lo rasakan setelah itu?”

Lala terlihat paham betul pertanyaan itu,”Gini deh, Re. ya lo betul, kita harus saling membantu apalagi ke mereka yang yatim. Tapi, apa lo egois nggak mikirin diri lo sendiri? Kalo gue, kerja disini karena ini Bulan Ramadan aja, Re. Karena hidup ini harus berpikiran material,” celotehnya.

Aku mengangguk membenarkannya,”Lo setuju? Tapi lo nggak ngelakuin. Gimana sih, Re!” Ia melipatkan kedua tangannya di dada.

“Lo bener kok, La. Sejatinya, gua yakin bahwa rezeki, jodoh, kematian itu semua Allah yang ngatur.” Aku tersenyum.

“Tapi, Re. kita juga harus berusaha, nggak boleh hanya berpangku tangan aja!”

“Lalu? Apa menurutmu kerja di Lazis ini bukan salah satu usaha?”

Ia terdiam,”Iya, lo bener, Re. Tapi..” Akhirnya berujar.

“Tapi apa? Untuk gue, mending sedikit tapi berkah daripada sebaliknya. Kebahagiaan yang sesungguhnya bukan ketika memiliki harta melimpah, dan lainnya. Kebahagiaan yang sesungguhnya ketika gue bisa berbagi buat banyak orang tersenyum atas apa yang udah gue perbuat. Masalah uang, Rezeki itu bukan hanya dalam bentuk uang, tapi salah satunya adalah nikmat sehat yang selalu kita abaikan.”

“Renia….”Ia mendekapku, tangisnya pecah. “Yakinlah, La. Jika kita menolong agama-Nya, maka kita akan ditolong oleh-Nya. Janji Allah itu pasti, La.”

Ia mengangguk, dan menggenggam pundakku, “Makasih, Re. Lo udah nasehatin gue.” Aku tersenyum.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Instagram