Pertemuan Singkat

Juni 05, 2017







“Pertemuan singkat, namun kau begitu mudah membuatku nyaman. Sepertinya rindu mulai menyapa tentang kebersamaan kita dengan segala perbedaan yang tercipta.”


“Bagaimana agar bisa terus bertahan hingga semester akhir, hai Mahasiswa?” Aku sengaja membuka percakapan di sore ini, di atas motor beat putih. Lelaki berperawakan jangkung, dan putih yang berada di depanku adalah seniorku di Universitas.

Dia tertawa renyah. Ya, tentu aku mendengarnya. Jarakku dengannya hanya dibatasi oleh tas ransel besar berwarna ungu ini. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke kiri, rumah dan ruko-ruko yang berada di Jakarta ini memang tidak pernah senyap.

“Kakak kasih tau kunci ya, Re.” Akhirnya dia menjawab, dan aku kembali menatap lurus. Agar fokus mendengarkan apa yang dia ucapkan,”Setiap Mahasiswa itu, apapun jurusannya. Pada saat semester 2 dan 3, saat saat itulah rawan DO. Kenapa? Karena pada semester itu kebanyakan Mahasiswa yang ngerasa salah ngambil jurusan. So, intinya kamu harus tetep jalanin dengan semangat.” Coletehannya berhenti, aku menganggukan kepala,”Begitu ya, Kak.” Jawabku singkat.

Aku kembali melemparkan pandangan ini ke jalanan yang sedari tadi hanya lurus. Aku tahu, bahwa Kak Bagas sering kali curi-curi pandang melalui kaca spion kanannya. Maka dari itu, aku hanya selalu memperhatikan keriuhan jalanan kota Jakarta, yang ramai menjelang waktunya berbuka puasa ini. Tak jarang aku melihat meja yang lumayan besar teralasi semacam kain, dan menyuguhi takjil yang menggoda lidah. Sekilas, aku seperti melihat ada kolek, gorengan, mie dan lainnya. Meja persegi itu sudah ramai dikerubungi oleh beberapa orang yang berhasil tergoda.

“Magrib di Jalan ini mah, Re. nggak apa apa?” Tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Nggak apa-apa, Kak.” Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin aku menyalahkan waktu adzan, bukan?
“Lalu tadi kenapa nggak mau buka dulu aja di rumah temen Kakak? Kamu jago bikin alasen juga ya, Re.” pipiku tiba-tiba memanas, dan langsung melempar pandangan lagi,”Aku tidak alesan Kak. Emang dari dua hari kemarin nggak buka di Rumah.” Lagi, lagi dia hanya tertawa. Menyebalkan!

Sebenarnya bisa dibilang aku memang hanya beralasan aja. Pertama, aku baru saja hari ini mengenal kak Bagas dari Kak Risti saudaraku. Mana mungkin aku mau merepotin temennya kak Risti, itulah alasan kenapa aku menolak ajakan itu.

Kemudian hening, aku tenggelam menikmati belaian angin yang menyapu lembut kulitku. Walaupun polusi kerap menyergapi, rasanya angin ini membuat aku lupa akan adanya polusi.

Lima menit kemudian, motor ini mendarat. Aku segera turun,”Makasih, Kak.”
“Sama-sama, Re.” Dia mengangkat tangan kanannya—untuk tos tanda persahabatan.
Aku menelengkupkan kedua telapak tangan di dada,”Assalamu`alaikum…”
“Waalaikumussalam, Re. tiati ya.”


Aku mengangguk dengan seulas senyuman, dan pergi meninggalkannya. Astaghfirullah kendalikan dirimu,Re!

You Might Also Like

2 komentar

  1. Cowok gak ada yang ngomong tiati dah perasaan πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makannya jan make perasaan ka ahahah

      Hapus

Popular Posts

Instagram