Surga Dunia

Juni 04, 2017

Aku melangkah dengan perlahan mata ini mengedar ke bagian atas dan bawah. Takjub. Terpana. Melihat surganya Dunia. Tersusun rapi buku buku yang selalu menggoda mataku dan membuatku begitu haus dengan asa mendapatkan buku yang terpampang rapi di rak berwarna coklat. Sesekali aku mengambil untuk sekadar melihat dan membaca tulisan yang cover belakang pada novel tersebut.

"Apa yang membuatmu begitu nyaman membaca?" Ucap Lelaki jangkung berperawakan tinggi keturunan Arab, yang baru saja saling kenal hari ini. Dia seniorku di jurusan Bimbingan Konseling. Aku tak mengacuhkannya. Tetap fokus pada bacaan yang tengah kuerat. Namun, hatiku membatin. 'Nyaman ya? Entahlah, terkadang dan sering kali aku dirundung kemalasan untuk membaca kata perkata hingga menjadi berlembar-lembar, namun yang tak kumerngeti. Satu itu, mengapa aku selalu terlihat haus akan buku yang menurutku bagus? Entahlah.'

"Ini nggak ada gambarnya sama sekali. Bukankah membosankan membaca tulisan seperti itu?" Lanjutnya sambil membuka kelebatan lembar novel yang dieratnya. Aku menoleh, akhirnya menjawab," Bagi mereka yang menyukai membaca, ini adalah surga dunia." Meletakan novel dan berlanjut melangkah ke rak selanjutnya.

"Surga? Ini sangat membosankan. Hanya berdiam diri, menatap kalimat per kalimat dan tulisan seperti itu. Lebih baik menonton, bukan?" Celotehnya yang mengekor langkahku sedari tadi.

Lagi lagi akhirnya aku menaruh novel ke tempat semula dan menjawab,"Kalo baca itu feelnya lebih ngena, Kak!" Ya, kembali memalingkan wajah. Tentu saja, seasik apapun dia tetap saja bukan mahromku. Aku hanya berusaha menanggapinya dengan sebaik mungkin.

"Feel ya? Hmm oke, oke. Emang selalu sulit untuk dimengerti. Dunia yang suka membaca itu memang berbeda. Mereka mempunyai dunia sendiri."

"Hmm." Jawabku singkat dengan anggukkan kepala membenarkan perkataanya. Setiap beberapa menit kaki ini beralih tempat. Kupikir dia akan berkumpul dengan kawan sejurusannya mencari buku yang tengah dibutuhkan. Namun, nihil. Dia tetap mengekor di belakangku. Seperti anak yang rakut kehilangan induknya. Menyebalkan!

"Kakak, nggak cari buku buat tugas?" Tanyaku tanpa menolehnya. Tangan dan mata ini hanya terfokus menatap novel yang tengah kubaca di genggaman. Aku merasa risih. Biarkan aku sendiri bersama duniaku. Kenapa dia selalu mengikutiku?

"Ahahah, buku yang disuruh osen aja jarang Kakak beli, apa lagi ini, Put."

Jawaban yang tidak diharapkan. Lagi lagi aku berusaha membuatnya bosan mengikutiku dengan beralih tempat yang tak hentinya. Nihil, hingga akhirnya.

"Put, kita udah dapet buku. Kalo mau lanjut keliling, keliling aja ya. Kita nunggu di depan ngerjain tugas, ayo, Sein." Ucap Wanita berperawakan tak cukup tinggi berkulit putih Kakak angkatku--Kak Ani, yang sudah berbaik hati mengantarkan ke kampus untuk tes masuk tadi Pagi. 

"Iya," Jawab singkat Husein lelaki yang sedari tadi kuharapkan beranjak pergi, akhirnya tercapai.

Yeahh, akhirnya aku berada di lorong surga dunia. Sendiri. Menyenangkan! Hingga tak terasa adzan berkumandang.

Ya, selalu seperti itu. Ketika di tempat itu membuatku selalu seperti manusia yang lupa diri. Entahlah~

You Might Also Like

6 komentar

Popular Posts

Instagram