Kesempatan Kedua

Juli 03, 2017

Google.com



"Ah, itu dia keretanya." Batinku lirih. Dengan antusias berlari. Tidak mengacuhkan ada seseorang menahan lenganku.
"Awass... keretanya jalan...." Samar samar riuhan suara orang di sekitarku yang terakhir terdengar. Kemudian gelap.

***

Kau itu pembohong!
Dasar kau! Anak tak berguna!
"Tidak....!" Mataku membelalak. Apa ini? Dimana aku? Lengang. Aku terbang ke arah langit. Yang semakin jauh, dari tempat aku menetap; semakin kecil.

Dimana aku? Tolong... tolong aku....! Hanya hembusan angin yang membuat bulu kuduk semakin merenggang. Aku semakin menjauh dari permukaan bumi. Hingga bumi, terlihat hanya sebuah titip di hamparan luas langit biru.

Aku hanya bisa menangis, dan terus menangis. Aku pasrah! Kupejamkan mata ini,"yaAllah, kembalikanlah, aku. Aku berjanji akan memperbaiki segalanya. Janji! Kumohon, kembalikanlah aku."

Lengang. Seperti tak ada sebuah tanda kehidupan. Segalanya seperti terhentikan. Riuh tangisan tiba-tiba terdengar,"Bangun, Re. Bangunlah!"

Aku tersentak, mendengar suara lembut wanita yang amat kukenali memanggil. Mata ini terbuka, terlihat empat orang yang tengah berada di depanku. Mereka memegang alat seperti setrikaan, entah apa yang mereka lakukan. Mereka seperti sudah lega, bak orang yang berhasil mendapatkan harta karun. 

Aku hanya terdiam, tak mengerti apa yang terjadi. Sekejap, ada kehangatan merayapi tubuhku. Secepat itu wanita yang tadi kudengarkan tangisannya, masuk ke dalam ruangan yang pengap, dan menyesakkan ini. "Alhamdulillah, akhirnya kau sadar, sayang."

"I...bu. Maafkan, aku...." Tak kuasa menahan tangis. Meledak, bulir hangat itu membanjiri pipiku. Ibu memandangku, menyeka bulir ini. Dan, mengangguk dengan senyuman hangatnya. Kembali mendekapku,"Ibu, sudah memaafkanmu, sayang."

Aku lega mendengar perkataannya. Aku memejamkan mata, YaAllah, terimakasih. Atas kesempatan kedua ini. Aku berjanji, akan memperbaiki semuanya! Aku tenggelam dalam dekapan hangatnya.


You Might Also Like

7 komentar

Popular Posts

Instagram