Let Me Change Part 2

Juli 15, 2017

Ask.fm.com



Itu siapa? Seorang wanita berdiri di ujung pelatara, mengenakan jilba yang menjulur panjang ke bawah, membelakangi pintuku.


Aku membuka pintu, dan wanita itu menoleh,“Oh, Lala. Masuk sini, La!” Aku mempersilahkan masuk Lala—sahabat hijrahku. Untuk segera masuk.

“Assalamu`alaikum,” ucap Lala,

” Wa`alaikumussalam,” jawabku.

“Ibu mana, Re? “Ia menelusuri lorong rumahku.

“Di belakang, La.”

Setelah Lala bersalaman dengan Ibu dan adik-adik di rumahku, kami langsung beranjak ke lantai dua—kamarku.

“Ini seadanya ya, La.” Saat Lala berbicara dengan Ibu dan yang lainnya, aku sibuk menyiapkan suguhan untuknya agar dibawa ke kamarku. Secangkir teh hangat, dan bolu kukus kesukaannya yang kebetulan kemarin kubuat.

“Yaelah, Re. Gausah repot-repot, sampe dibikin bolu kesukaan gue gini, haha.”

“Itu rezeki lo, La! Datengnya pas banget kemaren gue abis bikin bolu.”

“Alhamdulillah, haha. Jadi gini, Re. Bu Niar nyuruh kita seangkatan kumpul, sebelum kita bener-bener udah sulit untuk kumpul.” Raut wajahnya Lala terlihat berubah menjadi serius. Sesekali ia menyuap bolunya dengan lahap.

“Lah? Emang ada apa, La? Acara wisuda udah kelar, apa lagi coba?” Sejujurnya bukan masalah kumpulnya yang kutakutkan, tetapi aku takut bertemunya. Melihatnya sama saja membuatku semakin sulit untuk melupakan. Dia adalah salah satu orang di angkatannya yang masih mengabdi hingga saat ini. Siapa yang tidak mudah terpesona dengannya? Melupakannya adalah hal yang paling sulit untukku.

“Re, Renia…” Nada Lala yang cukup tinggi membuatku tersentak,”Sorry, La. Apa tadi?”

Lala mendelik,”Lo nih! Hayo, lagi mikirin siapa? Hmm… gue tau. Lo masih belom bisa move on juga pasti dari dia ya? YaAllah, Re. oh iya, gini. Acara yang ke Sekolahan itu kan ahad, sabtunya ikut gue ya.” Celoteh seperti biasa, aku hanya terdiam mendengarkannya dan memandangnya yang tengah menengguk secangkir tehnya dengan sekali tegukkan,”Gimana?”

“Gimana apanya?”

“Lo mau nggak, Re? Tema acaranya tentang hijrah. Pas buat kita.” Lala tersenyum nakal—merayuku.

“Oke, gue mau.”

“Yes!!” Kedua tangannya dilipat dan mengayunkan ke arah perutnya.

***

Aku dan Lala pergi di pagi yang masih belum disirami sinarnya matahari,”Kita mau kemana sih, La?” lengang. Jalanan kota Jakarta terlihat tidak seperti biasanya—ya, kurasa karena hari ini adalah weekend. Lala tetap fokus pandangan lurus memperhatikan jalanan. Lala antara tidak mendengarkan bicaraku karena fokus pada jalanan, atau dia memang tengah merahasiakan tujuannya, entahlah.
Kini jawabanku terjawab sudah. Motor beat merah Lala memasuki kawasan dan bangunan yang amat sangat kukenali—Masjid Istiqlal.  

Setelah Lala usai membereskan segalanya, mulai dari melepas helm, sarung tangan, jaket. Ia selalu saja riweuh seperti biasa,”La, emang siapa yang ngisi? Tema apa?”

Lala menarik lenganku segera masuk,”lo nih! Banyak Tanya, haha. Acaranya udah mau mulai kita harus cepet, Re. Ustadz Yusuf Mansyur, temanya berhijrahlah!” Ia tersenyum, dan kembali menarik lenganku dengan cepat.

“La, pelan-pelan dong. Sakit nih tangan gue!”

“Ups, afwan.” Ia menyeringai, dan mulai berjalan pelan.

Kita memang tidak mendapatkan tempat di paling depan Ustadznya, tetapi setidaknya kita bisa berada tidak jauh dari layar yang menampilkan Ustadznya dengan jelas. Aku menoleh ke arah Lala, ia menyaksikan dengan penuh khidmat. Aku pun mulai mencobanya. Aku berjanji akan menggenggam eratmu, La!

Adzan dzuhur pun berkumandang, kajian pun berakhir. Manusia terlihat seperti sekumpulan semut, untuk mengambil wudhu pun harus mengantri, dan berjalan sesak di tangga, karena saling berebutan untuk dahulu sampai agar tidak terlewat salat berjamaah.

Seusai salat,untuk berjalan ke pintu keluar pun itu sudah dipenuhi lautan manusia. Aku dan Lala memutuskan untuk menunggu jalanan sedikit lengang, dan duduk terlebih dahulu di selasar sekitaran Masjid. Lala mengeluarkan roti makanan kesukaanku,”Ini kita nyantai disini dulu ya, rame banget, Re!”  

Aku mengangguk.

“Jadi, apa yang bisa lo ambil dari kajian tadi, Re?” Tangannya melahap bolu yang kubawa.

“Hmm… intinya kita harus kuat pada tekad kita, La. Kesimpulan lo apa?” Aku menatapnya lamat yang tengah menengguk air di botol.

“Ya, betul. Karena hanya wanita yang bertekad kuat. Yang dapat melalui hijrah ini dengan baik.”

“Tapi, La. Hijrah itu kan sulit, istiqomah ternyatalah yan lebih sulit.”

Ia mengangguk, “Karena itu, Re. Kita harus memperbanyak sahabat hijrah, agar terasa lebih mudah.”

Aku mengangguk membenarkan perkataannya. Mengalihkan pandangan lurus, ke arah lapangan luas Masjid. Terlihat tiga anak kecil yang tengah berlarian tertawa riang, tidak memiliki beban apapun.

“Terutama yang itu, Re…” Aku tersentak, dan buyar lamunanku. Aku menatapnya dengan alis terangkat,”Apa?”

“Itulah… lo harus secepatnya move on dari dia, Re.”

Aku menghembuskan napasyang teras berat, kembali beralih pandangan ke depan. Entah, hal itu memang teramat sulit. Mungkin aku hanya perlu waktu untuk melupakannya.
Aku bangkit,”Ayo, La. Kita pulang! Itu udah sepi kok.”

Dia bergegas, dan berlari mengekor di belakangku tidak acuhkan dia yang sibuk meracau.
Kami pun pulang sebelum matahari tenggelam.

***

Aku terpaku, mengedarkan pandangan ke seluruh bangunan yang berwarna hijau, berlantai tiga. Sudah sekitar sebulan lebih tidak berkunjung. Padahal bisa setiap hari sewaktu masih berseragam putih abu-abu.

“Re, ayo!” Lala menarik lenganku untuk segera menaiki tangga yang terbuat dari besi berwarna hijau lumut, ke lantai 3 dimana tempat kita akan berkumpul. Setelah sampai di sebuah ruangan, yang tidak asing. Namun, cukup dirindukan. Ruangan yang ukurannya sekitar 5x5 m, bercat hijau khas sekolahan ini. Setelah selesai oleh riuh segala perbincangan. Acara selesai, dan aku memutuskan untuk keliling gedung kesayangan yang sudah lama tidak berkunjung. Ketika tengah berjalan, aku mendengar seseorang memanggil samar.

“Renia….” Aku menoleh. Degup jantungku berpacu lebih cepat, tanganku sedikit bergetar. Ah! 

Bersambung....

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Instagram