Sesuatu yang Terlupakan

Juli 12, 2017

@RirisAthina|twitter



"Masuk, kamu!" Seorang Wanita mendorong kamu. Hingga, tubuh itu berdebam ke lantai ubin yang lusuh. Kamu meringis kesakitan.


"Dasar payah! Nggak pernah bisa kasih Ibu uang yang banyak. Denger ya! Kalo kamu nggak turutin semua perkataan, Ibu. Kamu angkat kaki sekarang juga! Ngerti?!"  Wanita itu menutup pintu dengan lantam membuatmu terperangah. Dan dirimu meringkup. Tergugu.

***

Matamu menatap lurus. Tanganmu menarikan kuas dengan sempurna. Begitu menikmati layaknya seorang Maestro. Sentuhan kuas ke sebuah kanvas menggambar pemandangan dengan langit senja, lukisan yang terasa bernyawa. "Aku yakin akan memenangkan lomba ini. Liat aja nanti, Bu." Kamu menyeringai.

"Kakak, ayo kita salat ashar dulu!" Seorang gadis kecil berkepang dua berdiri di ambang pintu. 

Kamu berhenti, dan menoleh ke arah gadis kecil itu."Nanti aja ya, masih nanggung." Kamu memberikan seulas senyuman dan kembali melanjutkan lukisan yang nyaris selesai.

***

"Selamat ya! Ini hadiahnya." Seorang Wanita berparas cantik, menyodorkan amplop persegi panjang berwarna putih. Tersenyum manis, kemudian beringsut pergi.

"Terimakasih ya, Mba!" Kamu tersenyum. Dan, terpana. Melihat lembaran uang yang tebal berwarna merah di dalam amplop itu. Secepat kilat kamu berlari. "Aku akhirnya bisa memberikan uang yang banyak untukmu, Bu!" ucapmu lirih, kemudian berlari dengan cepat.

Terus berlari, tak peduli pada bulir yang muncul sebesar biji jagung di dahimu. Kamu terlihat begitu bahagia. Tak henti-hentinya senyuman manis itu terhiaskan di bibir kecilmu.

Tanpa sadar, kamu berlari di pertigaan jalan raya. Mobil sedan yang berhembus kencang, menabrak tubuh ringkihmu. Membuat tubuhmu terlempar ke ujung jalan, dan uang itu berhamburan di jalanan. Aku terkapar, tubuh ini pecah belah berserakan di jalanan. Hancur lebur. Namun, tak berdarah.

Aku yang selalu berada di wajahmu kini terlempar jauh, kita terpisah. Sungguh, betapa sedihnya memandangmu yang terbaring lemas. Tubuh ringkihmu itu telah berlumuran darah, kental. Aku tak sanggup melihatnya. 

Hanya aku yang mengetahui semua ini. Perjuanganmu yang luar biasa. Namun, kamu melupakan sesuatu yang mungkin bisa kapan saja terjadi. "Selamat tinggal! Semoga kamu bahagia di sisi-Nya." Aku terkapar diam membisu, tubuhku pecah bersamaan dengan bingkai yang patah dan berserakan. Tidak ada seorang pun yang peduli.

You Might Also Like

10 komentar

  1. Hay dek...

    Menurutku.. klo essensinya bakal lebih berasa kalo perjuangan si "kamu"nya itu diceritakan lebih detail.

    Dan aku amati cerpen2 kamu, ternyata banyak yg lebih menjelaskan lebih ke keadaan diri lakonnya. Biar lebih berwarna pakein cuga deskripsi ttg keadaan lingkungannya. Misal suasana alamnya.

    Tapi.. tetep suka. Selalu ada pesan nilai dri ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iyak ka. siapp makasii yoo:)

      sebenere sih ini Flash Fiction ka hihi

      Hapus
  2. Balasan
    1. Aamiin. makasii yang lebih kece:)

      Hapus
  3. Yang pecah itu lukisannya, put? *sorry lolaaa -_-

    BalasHapus

Popular Posts

Instagram