When Do You Remember Me?

Juli 21, 2017

Taked by Meipurple.com


Restoran yang minimalis, dan elegan. Berwarna hitam bercampur putih. Dan, terdapat tanaman sakura di sudut ruangan yang cukup luas ini. Aku terdiam. Menatap lurus ke arah seorang lelaki paruh baya, yang tengah menegak cangkir kopinya. Dan terlihat begitu khidmat, kopi nikmat khas buatan Jepang menelusuri tenggorokan yang awalnya begitu hampa.


“Silahkan di minum, Renia-chan.” Lelaki itu menatap cangkir coklatku, kepulan asapnya nyaris menghilang. Aku hanya mengaduknya agar coklat yang mengendap di bawah merata. Aku hanya mengangguk, dan menatap kosong ke arah cangkir. Hingga warnanya berubah semakin pekat, karena adukkan yang tak henti-hentinya.

Ia terbatuk, lamunanku buyar. “Saya akan menerima naskah anda, Re.”

Aku menatapnya lamat. Mata terbelalak,”Anda serius, Pak?” Ia mengangguk, dan tersenyum. Aku sumringah. Pikiran yang tadinya terdapat awan kelabu menyesakkan, berubah menjadi bak sebuah langit yang cerah.

“Baik, terima kasih banyak, Pak!” Aku tersenyum, dan setengah membungkukkan badan.


                                                                           ***
Aku terpaku. Menatap lurus ke arah monitor. Dengan jemari yang dengan lancar menekan tuts keyboard, seperti tengah menari ria. Lalu ia terhenti di sebuah kalimat “The End”. Aku sumringah.

Aku bangkit. Memasuki notebook, dan file penting ke dalam tas ransel berwarna ungu. Dan, secepat kilat pergi, ketika di ambang pintu terhenti. Melihat bingkai photo Ayah yang menggantung di dinding bercat ungu itu. Aku tersenyum. Aku akan segera mewujudkan mimpiku, Ayah! Kemudian, beranjak ke lantai bawah.

Aku melihat Ibu yang tengah sibuk di dapur,”Ibu, aku pergi dulu ya!” Setelah mengenakan sepatu pantopel, aku beringsut pergi dari rumah bercat abu-abu dan ungu yang berbentuk tradisi Jepang.

                                                                          ***

Aku menelusuri jalanan kota yang hampir gelap. Namun, jalanan Kyoto ini selalu saja ramai oleh lalu lalang kendaraan, dan juga orang-orang yang jalannya tak bias santai. Aku hanya menatap lurus, hati ini sumringah. Yosh! Naskahku akan terbit!  Aku melangkah perlahan, tak seperti mereka. Hanya tengah menikmati angin senja ini, yang menerbangkan ujung jilbabku. Tiba-tiba langkahku terhenti. Mataku membelalak, jantung ini berdegup lebih cepat. Sontak aku berteriak,”Aaa….!” Melihat seorang lelaki terlempar tepat di depanku. Bau anyir darah segar beterbangan. Lelaki itu wajahnya dilumuri darah. Sekumpulan orang mendekat untuk menolongnya.

Aku beringsut pergi dari kumpulan itu. Berusaha mengendalikan diri. Itu benar-benar membuatku lemas. Wajah lelaki itu masih tergambar jelas, berputar-putar bak kaset rusak di pikiranku. Bergidik. Menggelengkan kepala berkali-kali. Aku harus ingat tujuanku! Akhirnya, aku mempercepat langkah ini.

                                                            ***

“Naskah apa ini! Ini hanya sampah!” Seorang lelaki berperawakan tinggi, berkulit putih pucat, bermata abu-abu. Jleb! Lengan ini mengepal, menahan kesal. Hati ini terasa sesak. Bulir mata memenuhi pelupuk. Tahan, Re. Tahan! Ia merobekkan hingga hancur menjadi sampah yang kecil kecil, beterbangan oleh angin.

Aku membisu. Menatap kertas, yang terisi untaian kata yang sudah kuperjuangkan selama ini. Aku tak dapat berkata apa-apa. Bulir ini seperti sudah tak mampu lagi membanjiri. Tanganku mengepal, dan mendekat ke lelaki itu,”Sudah. Cukup!! Kamu keterlaluan! Tidak seharusnya kamu merusak itu naskahku. Apa kamu tahu betapa sulitnya aku menyelesaikan itu! Dasar tidak punya hati!!” Aku sekilas melihat lelaki yang paruh baya itu, terlihat malu. Dan tak dapat berbuat apapun.

Aku secepat kilat meninggalkan gedung itu. Tak dapat lagi menahan bendungan bulir yang sudah memenuhi pelupuk mataku. Akhirnya, meluncur sempurna dari kedua sudut mata ini. Langkah ini sangat melamban. Rasanya, kaki ini tak mampu lagi berperan. Akhirnya aku bersandar di sebuah tiang besar di pinggir jalan. Tangisan ini meledak.

“Brak!!” Aku tersentak mendengar sesuatu di hadapanku. Mataku membelalak, bibir ini gemetar. Sungguh, tak tahu apa yang kurasakan. Takut, senang, sedih, menjadi satu. Lelaki itu, yang tadi mencaciku, sekarang terkapar di Jalanan. Persis seperti yang tadi sore kulihat. Ia menatapku, seakan ingin memberitahu sesuatu, dan tak sempat, ia tak sadarkan diri. Sekumpulan orang mendekat, riuh suara histeris orang-orang dan suara ambulance yang memekakkan telinga.


Aku masih terpaku, air mata ini seakan kering. Tak tahu harus apa, tak tahu harus berkata apa. “Astaghfirullah…”Bibir kecil ini menyebut-Nya. Tergugu. Hari ini aku seakan tengah ditunjukkan sesuatu oleh kematian. Ya, ia seakan berbicara padaku, dan kemudian bertanya,”Perlu berapa kematian lagi agar kau mengingatku?” Tangisan ini meledak, aku pun tersungkur lemas.



You Might Also Like

10 komentar

  1. Sedih cerita nya hik hik hik ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahhaah ngakak.

      btw, makasii om udah mampir :)

      Hapus
  2. Aihh masyaallah...Iput makin keren ajah😇😇

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Aamiin yaAllah ..

      makasii loh doanya hihi

      Hapus
  4. masih ada kata yang sama dalam satu kalimat. dan beberapa diksi yang bisa diganti dengan kata yg lebih tepat. semangat kaka iput.

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke, noted. makasii sudah mampir kaka:)

      Hapus

Popular Posts

Instagram