Nikah?

Agustus 10, 2017

dok. pribadi



“Kamu nggak ngerti rasanya jadi aku! Mereka itu terlalu egois.” Seorang lelaki berperawakan jangkung berhidung turned up, berkulit kuning langsat. Mengenakan kaos oblong dan celana jeans. Seseorang yang sudah kuanggap sebagai abang. Gurat wajahnya terlihat sangat begitu muram saat ini.


Aku menatapnya lamat, ia yang tengah fokus ke arah kanan; sebrang jalanan Kota Jakarta. Aku menyeruput secangkir coklat hangat terfavorit. Hingga kehangatan itu merambat mulai dari kerongkongan hingga ke perut. “Aku tahu perasaanmu, Kak. Yang saat ini harus Kakak lakukan adalah mengikuti kemauan mereka.” Aku menatapnya lamat, tidak ada jawaban. Hanya anggukan lembutnya, dan meraih, menyeruput secangkir kopinya dengan khidmat.

“Aku akan lakukannya, Re!” Aku tersenyum, melihat Kak Azzam kembali terlihat lebih baik dari sebelumnya.

***

“Gua akan nikah minggu depan, Re!” Suara yang sangat familiar, terdengar dari sebrang sana. Membuat aku terperangah, dengan mata membelalak, dan mulut yang menganga.

Are you sure? Wah… Barakallah, La. Bukannya baru aja kemaren kajian lo berdoa, untuk disegerakan. Ah! Jangan-jangan itu lo waktu itu udah dikhitbah ya! Ngaku lo…,”ucapku seperti kereta yang tidak ada hentinya, membuat napas ini menderu tak keruan.

“Sabar, Re. Sabar! Bukan, nggak tahu kenapa setelah doa yang kajian kemaren rasanya manjur, haha. Mungkin itu juga berkat doa lo kali ya! Makasih lo, Re. semoga lo juga cepet nyusul gua!” Suaranya yang tidak kalah semangat terdengar memekakkan telingaku dari sebrang sana.

“Aamiin. Aamiin aja dulu, haha.”

“Renia…Jodoh itu bagaikan perihal `alif lam mim` hanya Allah yang tahu. Gimana kalo tahunya lo besok dikhitbah orang? Siapa yang tahu? Wallahu A`lam, kan?” Seorang Lala, yang sudah tidak asing jika bawel positivenya selalu saja membuatku terenyuh.

“Iya, La. Iya!”

“Yaudah udah dulu ya, Re. Assalamu`alaikum.”

“Wa`alaikumussalam.” Terputus. Aku terbungkam. Jika besok aku dikhitbah? Terdengar mustahil memang, tapi tidak bagi Allah.

***

“Aku on the way, pergi dengan keluarga untuk melamar gadis pilihan mereka, doakan ya, Re.” Aku menatap layar ponsel pintar yang terletak dihadapanku, membaca pesan Kak Azzam tentang hal ini tentu saja membuatku melengkungkan bibirku; yang tentu saja aku bahagia, melihat abangku itu segera menikah. Walau sebenarnya terdapat perasaan yang amat sangat mengganjal di benakku.

Cemburu? Bukan. Aku tidak memiliki rasa apapun dengannya. Hanya sekadar layaknya kakak beradik, tidak lebih. Aku melempar ponselku ke pembaringan, dan merebahkan tubuhku di atasnya. Menatap langit-langit kamar berwarna ungu yang terdapat hiasan sakura di tiap sudutnya.

Ah! Kenapa semua orang yang di sekitarku akan segera melangsungkan pernikahan? Lalu aku kapan? Aku mengernyitkan dahi, dan menggeleng kepala sekuat mungkin. Tidak! Aku tidak boleh iri dengan mereka. Karena, Allah akan mendatangkannya dengan tepat waktu. Aku tenggelam dalam pikiran yang melanglang buana.

“Renia…” Suara lembut ditemani ketukan pintu, membuatku tersentak dan membuyarkan lamunan yang tidak keruan.

“Iya, Bu? Nggak aku kunci, kok.”

“Cepat turun ya! Ada yang mencarimu.” Suara Ibu semakin mengecil, itu artinya Ibu sudah tidak ada lagi dibalik pintu. Aku membisu. Siapa yang mencariku saat ini? Saat waktu orang mau istirahat?

Aku memutuskan untuk beranjak turun, agar pertanyaanku segera terjawab. Setelah memakai jilbab yang menggantung dibalik pintu, aku mengenakannya, hingga sempurna menjulur ke bawah. Aku menginjak satu persatu anak tangga, entah apa terdapat aura yang tak keruan malam ini.

Dengan dress ungu yang nyaris menyapu lantai, dan jilbab hitam yang menjulur ke bawah, membuatku sempurna bagaikan seorang putri yang turun dari istana. Hening. Kenapa sepi? Apa mereka semua menungguku? Jantungku berdetak tak sesuai irama, pada anak tangga terakhir. Kakiku sempurna kaku. Begitu berat.


Kaki ini seakan mengakar kuat dengan lantai ubin putih di rumahku. Mataku membelalak. Jantung ini seakan berhenti berdetak. Semua orang yang berada di ruangan tamu menatapku dengan serempak. Dan, aku terfokus pada satu orang,”Kak Azzam?” Untuk apa dia kesini bersama keluarganya?

You Might Also Like

14 komentar

  1. Huaahh semoga segera iputt sayang. Bacanya sambil bayangin kamu loh😙😙

    BalasHapus
  2. Wow surprise.

    Di beberapa bagian, penyusunan kata-kata nya tidak pas. Ada serangan Ku dan nya. Ini sekali duduk kah put?

    Semangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha bunda ko tau sih? iyak semalem aja tuh nulis, tanpa baca lagi *kebiasaan ahahah

      Hapus
  3. Yuk nikah.yukk haha
    www.budielkarim.blogspot.com colek gih

    BalasHapus
  4. Jadi itu ceritanya surprise gitu lamaran nya? Jangan langsung masuk ke dialog-dialog panjang tanpa diselingi petunjuk cerita, buat porsi yang cukup antara dialog dan alur cerita, jadi pembaca nggak merasa bingung ngikutin alur nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hoo gitu yak. noted. terlalu banyak dialog yak uncle? makasii uncle kritikannya:)

      Hapus
  5. Meskipun beda niche, tapi menurut saya sih udah bagus tulisannya mba, hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. saya masih newbie ka, hihi.

      btw, makasii udah mampir:)

      Hapus
  6. Duh, jadi pengin ngelamar. Tapi pacar pun belum punya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahha jodoh pasti bertemu ko, Kak:)

      Makasii sudah mampir:)

      Hapus

Popular Posts

Instagram