Sebuah Kepastian

September 25, 2017



"Aku akan ke rumahmu, meminta restu mereka. Boleh kan?" Pertanyaan yang terlontarkan oleh seorang pemuda yang merupakan HRD di sebuah perusahaan, dan juga ketua komunitas islam yang sangat kukenali.



Pada saat itu, aku menolaknya dengan begitu mudah. Aku mengatakan tidak pada saat itu. Tentu saja, menolak dengan cara sopan. Karena aku pun tidak ingin menyakitinya.

Entahlah, apa yang membuat aku tidak yakin pada lelaki yang nyaris terbilang sempurna itu. Karena aku hanya follow my heart. Tidak ada satu kata pun tersampaikan kepada mamah dan papah perihal satu ini. Karena aku yakin, mereka akan menentang untuk aku menerima saja.

"Kenapa loe tolak, Re? Lelaki itu sempurna! Oh, i see. Itu pasti karena loe belom berhasil melupakan dia? Ya, kan? Ya Allah, Re!" Ocehan sahabatku yang masih mengelakar di otakku. Aku hanya diam menanggapinya. Karena tidak tahu harus berkata apa, hati dan pikiran tidak bisa menyatu.

Mungkin benar yang dikatakannya. Sampai saat ini, kuakui. Belum juga terhapus memori tentangnya. Masih tersisa ruang itu rapi di benakku. Aku tidak mengerti, apa itu. Dan apa yang harus kulakukan.

Tapi, kembali terpikirkan betapa sakitnya jika menanti suatu yang tidak ada kepastiannya. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti melupakannya.

Ya, berhenti untuk melupakannya. Namun, aku akan belajar untuk mengikhlaskannya. Karena, terlalu sulit jika harus melupakan sebuah memori yang sudah tersimpan rapi di benakku.

Namun, yang kutahu. Sebesar apapun usahaku untuk menantinya, mendoakannya, mencari celah perhatiaanya agar masuk ke ruang hatinya. Sampai kapan pun tidak akan mungkin berhasil, jika Dia berkata "Tidak".

Dan sebaliknya, sebesar apapun usahaku untuk menolaknya, menjauhinya, membencinya, akan tetap mendekat dengan cara-Nya.

Karena, nama seseorang telah tertulis saat aku telah terlahir di muka bumi ini. Maka, tidak ada satu orang pun yang bisa berkehendak. Untuk memisahkan perihal tersebut.


Itulah takdir.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Membuka kembali memang tidak mudah y mba :) i feel you mba dulu banget begitu sangat menyakitkan menanti sesuatu yang tak pasti :) semangat mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha iyak ka, btw makasii udah mampir^^

      Hapus

Popular Posts

Instagram