Sekejap!

September 19, 2017

Dok. pribadi
"Sayang, liat deh!" Aku berhenti menyeruput secangkir cokelat hangatku. Dan, segera pindah ke sampingnya.



Tersusun rapi sebuah photo aku dan dia selama di Bandung, Lembang. Dan, destinasi lainnya. Honeymoon, mungkin saat ini. Kita saling bertatap manja, dengan tawa renyahmu yang selalu membuatku terenyuh. Ya, lelaki yang sangat terbaik pilihan-Nya. Setelah 3 bulanan terakhir ini, aku resmi menjadi pendamping hidupnya. Yang insyaAllah di Dunia dan Akherat.

Tawa renyah kita berdua mengalir begitu saja. Di sudut sebuah kedai di kota Jogja. Entahlah, untuk kita. Bersama adalah hal yang membahagiakan. Dia adalah seorang freelance, penulis yang fokus di sebuah media online islami. Sekaligus, seorang pujangga yang tak pernah absen membuat puisi indah tiap kali aku bangun dan hendak tidur.

Aku merasa, Allah benar-benar menunjukkan yang sangat terbaik untukku. Walau kala itu dilema dengan beberapa pilihan, yang mungkin lebih kaya dan tampan darinya. Telepon berdering, Lala sahabatku yang rumahnya tak jauh dari kedai saat ini. Ia ingin aku mampir walau hanya sebentar saja. Karena, kemungkinan kita akan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat ini.

"Hmm... sayang. Aku izin keluar sebentar ya. Ke Rumah Lala, di depan sana," aku menunjuk ke arah depan Kedai ini.

"Ayo, aku temenin!" Ia bergegas menshutdown laptopnya.

"Nggak usah, sayang. Kamu harus selesai sebelum deadline, kan? Aku sebentar dan cuma di depan situ. Oke," aku tersenyum dengan sangat manis, dan pasti akan meyakinkannya.

"Oke, fii amanillah. Liat kanan kiri disini banyak kendaraan yang ugal-ugalan," ceramahnya dengan muka khawatirnya.

Aku mengangguk dan memberi seulas senyum, "Aku ngerti, sayang. Bukan anak kecil, kan?" Dan tawa kita mencairkan suasana.

"Assalamu'alaikum." Aku bangkit, dan mulai meninggalkannya.

"Waalaikumussalam, hati-hati ya." Aku hanya mengangguk, terus melanjutkan jalan hingga keluar Kedai.

Kedai itu dilapisi kaca. Dengan interior sederhana tapi elegan. Saat di kelokan sebelum menyebrang jalan raya. Aku menoleh ke belakang. Ke arah lelaki yang kusayangi di sudut ruangan itu. Wajahnya begitu serius. Namun, cahaya yang dia miliki terpancar dari luar sini. Ada ketenangan yang selalu membentenginya.

Aku bahagia bahwa kini dia yang menjagaku. Bahkan, sangat bahagia. Tak henti-hentinya aku bersyukur, mendapatkan pangeran yang bisa membuatku terus berjuang di jalan-Nya. Akhirnya, aku melangkah pergi menjauh dari Kedai tersebut.

Malam di kota Jogya adalah kali pertamanya aku berkunjung. Sebelum pada masa lajangku. Kini, ke tempat ini dibawa olehnya. Ya, tiga bulan terakhiran ini adalah kejadian sekaligus kenangan yang sangat membahagiakan. Yang tak pernah ada yang bisa membelinya. Sebuah harga mati untuk kebahagiaan kita berdua.

Yang tak pernah disangka akan saling bersatu dalam ikatan suci, pernikahan.

Namun, hingga saat ini. Aku belum jujur tentang semua masa laluku. Masa lalu yang amat kelam. Aku takut, malu. Merasa tak pantas bersanding denganmu, pangeranku.


"Awas...!!" Aku terperangah mendengar teriakan banyak orang di sekitarku. Dan menoleh ke kanan, silau lampu yang membuat fokusku menghilang. Cahaya yang semakin lama semakin mencolok mataku. Dan, gelap.

***

"Sayang! Kamu nggak apa-apa, kan?" Seorang lelaki dengan muka lembam, muka yang familiar. Namun, aku tak mengingatnya pasti siapa dia.

"Sayang?" lanjutnya.

Alisku terangkat, "Kamu siapa?" Aku menunggu jawabannya, agar terjawab semua pertanyaan di benakku. Namun, nihil.

Ia malah membeku, matanya membulat. Terlihat air mata yang sebentar lagi terjatuh di sudut matanya. Dan, ia terjerembab di lantai.

"Dokter, tolong...!!"

You Might Also Like

6 komentar

Popular Posts

Instagram