Senang atau Sedih?

Desember 30, 2017


Meipurple.com 


Hembusan napasku seakan telah di ujung ambang. Badanku seakan terhentak lembut, "Laa illaha Illallah.."

"Febiii... Bangun, Feb! Jangan tinggalin Ibu,  Nak!" Aku melihat mereka menangis tersedu, ingin rasanya aku mendekapmu untuk yang terakhir kali, Ibu. 

"Mah, sabar mah, liat Febi tersenyum." Tukas Ayah, dan Ibu kembali pecah tangisannya. 

Aku menahan tangis yang amat mendalam, ingin menyentuh, namun tak tersentuh. 

"Ayo, Feb." Bayangan hitam ini menarikku, dengan kekuatan penuh. Sehingga, aku tak bisa berontak, hanya bisa mengikuti. 

Cahaya yang silau putih menyinari, menuntunku dengan penuh kelembutan. Aku terenyuh, tenang yang tak pernah terasakan sebelumnya," Aku banyak dosa YaaAllah.. Kenapa Engkau mencabut nyawaku? Aku banyak dosa, yaa..Allah..." Aku menangis tersedu. 

"Aku mengampuni dosa-dosamu." Aku terhenti tersedu sedan. 

" Ayo, Feb. Ikut Aku ke Surga."  Cahaya putih bersih begitu menyinari dari depan sana. Aku terhenti. 

Aku menunduk lemas, "Febi banyak dosa, YaaAllah.. Pantaskah aku?" Aku kembali tersedu. 

"Tenanglah, " Dia mengelus lembut kepalaku," Ayo, kita melihat Neraka. "

Aku terperangah, dan bangkit." YaaAllah hanya mimpi. " Aku terpaku, jantung berdetak tak berirama. Aku harus senang, sedih, atau takut?

Aku memejamkan mata," YaaAllah, matikan aku dalam keadaan husnul khotimah, di saat aku benar-benar mencintai-Mu sedalam-dalamnya.  "

'Astaghfirullah' tangisanku meledak, dan kedua tangan menutup mulut ini. Biar hanya aku dan Allah yang tahu tangisan ini.

-Maa Fii Qalbi Ghairullah-

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Instagram