Dia kah?

Februari 12, 2018



Lampu dalam ruangan yang terhampar luas, gelap tak ada lampu menerangi. Aku meluruskan lengan, sekadar untuk merenggakan otot yang sedari tadi kaku di depan monitor. 

Ruangan yang dingin begitu menusuk hingga pori pori yang tertutupi jaket ungu berbahan kanvas pun, tertembusnya. 

Siang ini, waktunya istirahat, namun aku tidak. Karena ini adalah hari Senen. Rasa kantuk yang ingin sekali segera merebahkan kepala ke meja untuk terlelap sekedarnya. 

Namun, tidak aku lakukan. Karena, lebih baik menunggu setelah seusai salat. Itu akan lebih tenang, dan menjadi tidur yang baik. 

Aku melempar pandangan ke ujung kiri meja, buku segi empat kecil dengan warna pink dan gambar bunga di setiap sudutnya. Aku berbisik membacanya, "Pernikahan.. Impian..." nafas berat terhembuskan. 

Fokusku buyar, ketika suara adzan berkumandang di handphone case ungu di sebelah kanan lenganku. Segera kumatikan, dan beranjak pergi. 

***

Pintu musolla terbuka, dan AC dari ruangan serasa begitu mencekamku. Dan terlemparkan ke jendela besar di sebelah kanan. "Ah, pantes aja. Ujan toh! Allahumma shoyyiban nafi'an," bisikku. 

Aku terpaku ketika di depan mejaku. Menatap kertas yang didepannya bertuliskan, "Do you want marry me?" 

Gelap, sunyi, senyap. "Dia seriuskah?" 

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Instagram