Kata yang Tak Terucap Part 4

Maret 21, 2018

Siang ini nafsu makanku lenyap entah kemana, akhirnya turun untuk ke resto sebelah sekadar meminum dan memakan yang ringan. Dua pegawai disana sudah sangat familiar denganku, dengan aku berkata,"Seperti biasa ya, Mas." Tak lama es milo di atasnya terdapat es krim datang di meja yang merupakan minuman favorit ketika nafsu makan menghilang.

Meipurple.com 


Aku memilih meja seperti biasa--di dekat jendela, para pegawai yang dari sample room seperti semut yang keluar--segerombolan, yang tak ada habisnya. Aku mengaduk dan menatap lurus ke arah gelas untuk melarutkan es krim agar tercampur dengan minumannya.

"Hey, La. Nggak makan lagi?" Seorang wanita cantik dengan paras yang nyaris mirip dengan artis bernama michelle ziudict ini memang sudah begitu akrab denganku, walau berbeda agama, tetapi kami begitu saling memahami satu sama lain.

"Iya nih, Kak. Nggak laper. Kakak nggak makan?" Aku menatapnya menunggu jawaban.

"Nggak, ah. Ini ada bakpao untuk squishyku." Ya, sebutan sayang katanya. squishy--entah menghibur atau menghina. Tak terlalu masalah untukku.

"Makasih, Kak. Pesen makan gih." Ia mengangguk dan memberi kode kepada pelayannya.

"Kamu kenapa, La? Masih kepikiran sama dia yang di Semarang?" Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi serius, dan menatap tajamku.

Aku pasrah, tak pernah bisa berbohong depan kakak yang satu ini,"Hmm, maybe, Kak. Tapi, Kak. Perlu Kakak tau, kalo aku tuh nggak pernah mau ada perasaan ini. Justru kalo boleh milih, jangan pernah dateng aja perasaan ini. Karena cuman bisa nyiksa aja, Kak."

Ia menenangkanku," I see, dear. Cinta itu emang dateng tanpa ijin dan tanpa persetujuan kita, La. Cinta itu hadir begitu aja, jadi jangan salahkan cinta, akan ada hikmah dibalik semua ini, dear."

***

"Helen!" Mister Choi yang pagi-pagi sudah berkoar memanggil namaku, membuat jantung terasa ingin berhenti, bukan karena aku yang hectic terhadap orang Korea. Alias karena males terus kena ocehan kaum mereka yang tak pernah lelah berbicara.

"Iya, Mister."

"Besok kamu pergi ke Semarang untuk checking produksi ya." Apa? Tapi, yes! Aku bisa abisin tuh si Azzam, karena berani-beraninya buat Squishyku sedih. Thanks, god. Yes, yes, yes! "Helen! Apa kamu mendengarkanku?"

Aku terperangah," Ah, iya, siap mister. Oke siap, saya besok ke Semarang." Aku tersenyum, dan menunduk sekali sebagai tanda hormat kepada orang Korea. Yes!

***


Ini adalah line terakhir di departement sewing, tapi belum ada juga tanda-tanda kemunculan si Azzam cowo menyebalkan itu. Mana sih dia? Hmm, karena dia bagian office dia nggak pernah checking bagian sewing gitu? Sombong sekali dia. Kalau begitu, Squishyku memang salah mencintai orang, haha.

"Helen, kan?" Seseorang lelaki bernama Endo dulu dia GG Jakarta, sekarang mutasi Semarang itulah sebab dia mengenalku.

"Endo! Apa kabar kamu?" Basa basi aja dulu. Setelah udah asik ngobrol, nanya deh dimana sih si Reza officenya. Pokoknya, gue harus ketemu sama dia! Kecewa banget kalo gue ke Semarang nggak bisa ketemu dia!!

"Azzam itu di lantai 2, Hel. Departement PPIC."Setelah Endo kasih info tentang itu, aku pun bergegas pergi, karena waktuku disini tidaklah banyak.

"Oke, thank you, Ndo!"

Tepat di lantai 2 dan, itu dia ruangan PPIC! "Permisi, Mba. Mau ketemu Mas Azzam ada?" Aku bertanya kepada receptionist di sekitar.

"Pak Azzam, lagi nggak ada di tempat, Mba." Apa?? susah sekali orang itu dicarinya!

"Oke, thank you."

**

Aku melangkah hendak ke lantai bawah, terlihat sosok yang kucari berjalan ke pintu,"Azzam!"

"Kak Helen?" Akhirnya Azzam mengajak untuk bercerita dan berbicara panjang di kantin. Karena lebih nyaman dan tidak berisik.

"Jadi apa, Kak?"

Aku berusaha menahan amarah yang menggelora di dada ini,"Apa lo nggak tau apa salah lo? Gua mau ngomongin tentang Lala, Zam!"

"Oh, lala. Udah jelas kan? Nggak ada yang perlu diomongin lagi." Wajah tak bersalah itu memuakkan jiwaku.

Aku menahan napas yang terasa berat ini," Lo kenapa? Lo ngertiin dikit dong perasaan cewe?! Dia masih berharap lo balik ke Jakarta! Kenapa lo malah seperti yang bahagia diatas penderitaan orang lain?!"

"Karena gua pikir dia udah jatuh hati sama seseorang, dan gua putuskan untuk pindah ke lain hati, Kak."

Tangan ini terasa panas ingin mendarat di pipi lelaki di depanku, urung,"Semudah itu berpindah hati?! Asal kamu tau, Lala juga nggak sudi sejujurnya ada perasaan itu. Perasaan yang dateng begitu aja, tanpa permisi atau pun persetujuannya. Dia juga nggak mau perasaan itu hadir! Camkan itu baik baik, lelaki bodoh!!"

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Find Me on IG @meilanyputrii