Kebahagiaan yang Sesungguhnya!

Maret 02, 2018

Mr. X


Untukmu yang baru aku kenal, tapi aku bisa banyak belajar darimu.



Aku tahu, jika hidup ini tanpa perlu mengenal orang banyak pun akan terus berjalan. bahkan dengan baik. aku percaya hal itu, Mister. but, pernahkah kamu terpikir? jika hidup hanya sekedar untuk kebutuhan sendiri, tanpa peduli orang-orang yang berjuang demi kita, sebelum kita.

Ya, aku tahu. Bahwa nanti di akhirat pun tak ada yang bertanya, "Berapa banyak temanmu?" Kecuali mereka yang bisa menolongmu, kelak. Tapi, coba kembali pikirkan, darimana kita tahu rasa sebuah kepedulian? Rasa saling memahami? Rasa saling mengerti? Rasa saling mengasihi?

Darimana? Jika bukan karena dari orang-orang di sekitar kita. Semakin banyak orang yang kamu kenal, maka semakin banyak pelajaran yang akan kamu dapatkan. You trust it? Oke, aku tak memaksamu untuk bersosialisasi dengan banyak orang.

Kenapa? Karena itu hakmu. Sekali lagi, itu hakmu. Disini aku hanya bercerita, betapa pentingnya kita memperluas relasi. Tak ada sejarahnya orang yang introvert meninggal dunia begitu saja. Tak ada! Tapi, kita ini makhluk sosial. Perlu menghadapi berbagai macam karakter semua orang.

Darimana kita tahu bahagia? Jika bukan karena ada luka dibaliknya? Lalu, apakah kita perlu terluka terlebih dahulu untuk bisa bahagia? Umumnya begitu, tapi ketika kita mempunyai banyak teman. Dengan mendengarnya saja, kita bisa ikut tahu, merasakan apa yang ia rasakan. Walaupun tak sepenuhnya berperan dalam cerita itu.

Apa arti sebuah kebahagiaan, jika kita tak tergerak sedikit pun, tak ada rasa kepedulian terhadap sesama manusia. Untuk apa? Apa hidup ini hanya untuk kebahagiaan kita saja? Tanpa peduli mereka yang mungkin harus juga merasakan kebahagiaan ini?

Perlu kamu tahu, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa membantu seseorang tersenyum. Membantu mereka yang dalam kesulitan. Bagaimana bisa begitu? Itulah rasa kepedulian, yang hadir ketika kita bersosialisasi dengan semua orang.

Aku pun adalah seorang introvert, yang lebih baik memilih diam untuk mengamati orang dan sekitar dengan tenggalam dalam buku bacaan. But, bukan berarti aku seperti yang tak bisa berbaur. Karena ada saatnya aku menjadi pengamat, atau pun pelaku.

Pelaku dimana aku bisa merasakan segala hal, rasa saling memahami, saling mengerti, saling menolong, saling peduli, dan saling mencintai.

-Mei Purple-

Jakarta, Maret 2018.

You Might Also Like

3 komentar

  1. Jadi teringat ceramah ustadz abdul somad tentang siapakah orang yang paling bahagia, tapi kalo dipikir-pikir ada benernya sih tapi.. gak jadi deh hehe

    BalasHapus
  2. Ah masa sih iput introvert? Kan iput cerewet *eh wkwkwk

    semakin banyak yg kita kenal, semakin banyak pelajaran yg kita dapat. Nice share puuttt :*

    BalasHapus
  3. Aku juga introvert. Namun jika keluar dari rumah dan ada yang menyapa, "Hei" Meski apapun yang sedang aku alami, tetap senyum yang pasti diutamakan dalam berinteraksi.

    BalasHapus

Popular Posts

Find Me on IG @meilanyputrii