Hijrah Cinta

April 03, 2018


Meipurple.com 


"Kita putus, Kak. Berhenti untuk menghubungi atau mencariku. Dan mendekatlah dengan Allah. Maafkan aku..." aku berbalik beringsut. Menahan ledakan tangis, tak bisa kupungkiri. Ini adalah hal tersulit yang pernah kulakukan. Aku begitu mencintainya.



Ia menahan tanganku, aku segera melepaskannya. "Kamu kenapa, Re? Apa salahku?" ia menatapku tajam, aku mengalihkan pandangan.

Aku terdiam, "Berhenti bertanya, lakukan aja apa yang aku inginkan."

~~~

" Jauhilah dia, jika kamu memang menyayanginya. Dengan kamu selalu disisinya dengan cara itu, hanya akan membuatnya dalam bahaya. " Seorang bertudung hitam, berbicara tanpa menatapku.

" Siapa kamu? "  Entah mengapa, aku langsung mengerti siapa yang orang itu maksud.

" Hanya satu pesanku, jika kamu benar-benar menyayanginya. Maka jauhilah ia!" Ia melangkah pergi.

"Tunggu! " Aku tersadarkan. Itu hanya mimpi. Tapi itu terasa begitu nyata, siapa dia? Ah, mimpi itu hanya bunga tidur saja!

***

" Halo, Re. Aku ingin kasih tau kamu, kalo weekend ini aku akan pergi ke turing sama temen temen kantor. Dan itu cowo semua. Kamu nggak bisa ikut deh, " celoteh Reza dari sebrang sana.

" Aku nggak apa-apa ko. Kamu yakin? Aku khawatir kamu kenapa kenapa, Kak. "

" Kamu tenang, Re. Aku akan baik-baik aja kok. Oke, sampe ketemu di Kampus yak. Bye! " tut..tut... Dan telepon terputus.

Aku terduduk lemas, terpaku. Aku khawatir, yaaAllah.

***

" Pagi, Re. Ke Perpus yuk! "

Aku terdiam, kaki bergetar dan jantung ini berdetak tak menentu. Melihat seseorang yang ada di dalam mimpiku, berada persis di belakang Reza. Dan gelap.

***

Teleponku berbunyi, aku tak mengerti apa yang terjadi tadi.

" Halo, Re. Gimana keadaan kamu? Baik-baik aja kan? " aku membisu, mengingat apa yang tadi kulihata ketika di Kampus.

" Za, aku minta satu hal sama kamu ya," aku berusaha bersuara.

"Apa itu, Re? "

" Aku mohon untuk jangan pergi turing. "

Ia terdiam sesaat," Maafkan aku, Re. Aku nggak bisa. Kali ini destinasi yang telah lama aku nantikan. "

Aku menutup mulutku dengan telapak tangan, agar tak terdengar ledakan tangis ini. Firasatku mulai semakin kuat. Aku tak bisa mencegahnya untuk pergi. Telepon telah kuputuskan.

Tangisanku meledak. Hanya ada aku di kamar yang tahu, dan merasakan betapa sedihnya ketika tahu kalau orang disayangi akan pergi. Aku menelengkup di ujung tembok meluapkan segala tangis ini.

~~~

" Semenjak ia diam 2 hari di kamar, karena diputusin olehmu.akhirnya dia tetep pergi turing tadi pagi, Re. Ibu juga nggak ngerti apa yang buat dia begitu ingin pergi kesana. " pikiran dihantui oleh kata-kata ibu Reza 3 hari yang lalu bak kaset rusak. Tak beraktivitas, hanya di kamar, mengkhawatirkannya.

Tiba-tiba telepon berbunyi," Halo, Re. Reza sekarang di Rumah Sakit Koja, keadaan dia kritis, Re. " aku tak dapat berkata apa-apa. Beringsut pergi secepat mungkin kesana.

***

" Rezaaa! Jangan tinggalin Ibu, Nak! " ruangan yang menyesakkan itu riuh oleh tangisan.

Aku terpaku di ambang pintu, menutup mulutku tak kuasa dengan tangisan ini dan terduduk lemas di lantai. Melihat orang yang bertudung hitam membawa Reza.

" Terimakasih, Re. Kamu telah menjauhiku dan membuatku lebih berpikir, dan kembali dalam keadaan yang lebih baik. Jaga dirimu baik-baik, dan tetaplah menjadi muslimah yang kukenal." Ia memberikan senyuman yang sangat kusuka.

Dan pergi, menghilang.

"Tidak, jangan bawa dia pergi.. Kumohon...!! " Aku kehilangan kendali, tangisan ini menguasai diri dan membuatku kehilangan akal. Seluruh keluarga Reza, memandangku aneh, dan berusaha menenangkanku. Tangisan meledak-ledak. Akhirnya, gelap.

~The End~

You Might Also Like

4 komentar

  1. Ceritanya bikin nangis... 😐
    Kebtulan mood hari ini lgi abu2... ditambah baca ini... huuaaaa mataku tiba2 jadi air terjun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahaha masasi ka? Emang sih, kemaren Iput juga bikinnya di kapal pas di Ujung Kulon. Dan, itu bener-bener nangis pas buat ini. ahahaha.

      Btw, Makasii udah mampir ka:)

      Hapus

Popular Posts

Find Me on IG @meilanyputrii