Yuk, Jadi Pribadi yang Tangguh dan Sadar akan Bencana!

Mei 01, 2018

Assalamu`alaikum, halo minna-san, apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan-Nya ya, Aamiin. Kali ini saya ingin sharing tentang HKB (Hari Kesiapsiagaan Bencana) tepatnya pada tanggal 26 April 2018, pada hari kamis lalu.



Dimana acara tersebut diadakan di Graha BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) pada tanggal tersebut dijadikan HKB serentak seluruh Indonesia, dan dibuat simulasi kebakaran di Graha BNPB. 

Tapi, bukankah itu seperti mengharapkan kebakaran atau mengundang bencana lainnya di Jakarta?

Pada masyarakat umum yang melihat hanya sekilas, mungkin akan terlintas pemikiran tersebut. Gini, diadakannya HKB dimana serentak seluruh Indonesia, memperingati agar untuk melatih diri kita semua untuk menjadi pribadi yang tangguh, siap siaga dan sadar akan bencana!

Karena, semua orang mempunyai resiko terhadap potensi bencana, sehingga semua penanganan bencana merupakan urusan semua pihak, yang nggak selamanya mengandalkan pertolongan orang lain. Oleh sebab itu, perlunya dilakukan berbagai peran dan tanggung jawab dalam peningkatan kesiapsiagaan di semua tingkatan, baik anak-anak, remaja dan dewasa.

Dan nggak bisa kita pungkiri, bahwa Indonesia merupakan Negara yang rentan oleh bencana. Kenapa? Karena Pulau-pulau di Indonesia secara geografis terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik Dunia yaitu, lempeng Australasia, lempeng Pasifik, lempeng Eurasia, serta Filipina. Karena itulah Indonesia sangat rentan secara geologis.

Di samping itu, kurang lebih 5.590 daerah aliran sungai (DAS) yang Indonesia miliki, dan letaknya antara Sabang dan Merauke. Pergerakan lempeng tersebut, dapat menyebabkan berbagai bencana seperti gempa bumi, tsunami, dan dereta erupsi  gunung api (129 gunung api aktif). Karena itulah Indonesia menjadi salah satu Negara yang beresiko tinggi terhadap bencana.

Gimana? Masih mengira ini sebuah keinginan kita semata? Karena nggak ada yang menginginkan sebuah bencana datang, tetapi menyediakan payung sebelum hujan. Itu sangat perlu kita lakukan, apalagi setelah tahu betapa besarnya kerentanan Indonesia dalam bencana, right?

Berdasarkan hasil kajian resiko bencana yang disusun BNPB tahun 2015, jumlah jiwa terpapar resiko bencana karegori sedang-tinggi tersebar di 34 provinsi mencapai 254.154.398 jiwa. Selama tahun 2017, terdapat 2.372 kejadian bencana mengakibatkan 377 jiwa meninggal dunia/hilang, dan 3,49 juta mengungsi.

Gambaran tren bencana global ke depan juga akan cenderung meningkat karena pengaruh beberapa faktor, seperti:

  1. Meningkatnya jumlah penduduk,
  2. Urbanisasi,
  3. Degradasi lingkungan,
  4. Kemiskinan, 
  5. Pengaruh perubahan iklim global
Perlunya Kita Mengambil Pelajaran dari Jepang!

Salah satu Negara yang berhasil melatih kesiapsiagaan adalah Jepang. Hasil survei di Jepang, pada kejadian gempa Great Hansin Awaji 1995, menunjukkan bahwa presentase korban selamat dalam durasi "golden time" disebabkan oleh:
  1. Kesiapsiagaan Diri Sendiri sebesar 34.9%
  2. Dukungan anggota keluarga 31,9%
  3. Teman/Tetangga28,1%
  4. Orang lewat 2,60%
  5. Regu penolong 1,70
  6. Lain-lain 0,90%
Dari data diatas, sangat jelas bahwa faktor yang paling menentukan adalah "Diri Sendiri", keluarga, komunitas, dan sekitarnya. Nah, nggak selamanya kita bisa mengandalkan orang lain, atau bala bantuan. Perlunya kesadaran pada diri kita terhadap bencana.

Keseruan Simulasi di BNPB


Graha BNPB (dokpri) 

Tepatnya pada saat itu saya berada di lantai 5 Graha BNPB, bersama 5 orang blogger lainnya. Disana terlihat seorang wanita yang berpartisipasi dalam simulasi tersebut. Sebagai korban yang masih dalam keadaan sadar, yang sedang mengalami patah tulang belakang, sehingga membutuhkan bantuan tandu untuk penanggulangan. 

Korban patah tulang belakang (dokpri) 

Terdengar hal seperti kebakaran, gempa bumi, bukanlah hal asing buat saya pribadi. Namun menyaksikan langsung bagaimana yang harus kita lakukan pertama kali sebagai penanggulan bencana ini merupakan hal yang menyesankan,lho!

Petugas keamanan yang memberikan instruksi menggunakan toa (dokpri) 

Setelah beberapa saat, terdengar suara sirine yang begitu nyaring, dan suara pengumuman bahwa telah terjadi kebakaran di lantai 5 & 10. Karyawan yang sempat riuh kepanikan, akhirnya petugas keamanan berseru menggunakan toanya, untuk melindungi bagian kepala dan berlindung di bawah meja.

Para pegawai mengikuti instruksi petugas. (dokpri) 

Sontak, saya sedikit kaget dengan keadaan seperti ini. Merupakan pertama kali melihat ini, ahahah. Sehingga, ketika si Bapak petugas itu menyuruh melindungi kepala, saya malah ikutan. Untung aja, saya nggak ikutan ngumpet di kolong pegawai sana, ahahaha.

Turun melalui tangga darurat. (dokpri) 

Ketika keadaan sudah terlihat agak tenang, Bapak petugas keamanan menginstruksikan semua pegawai lantai 5 untuk turun melalui tangga darurat. Dan, terus mengingatkan,"Lindungi kepala anda, jangan panik! " seru beberapa petugas yang terdengar banyak ketika sudah di tangga darurat.

Dan, akhirnya sampai pada lantai terakhir, dan berkumpul semua pegawai di lapangan yang berada di depan Gedung Kantor. Kemudian, di instruksikan agar baris per lantai. Mungkin agar mudah memastikan bahwa semua pegawai di lantai itu ada semua, mengantisipasi pada saat itu, ada pegawai yang tertinggal dan lain sebagainya.


Beberapa saat kemudian, terlihat dua mobil pemadam kebakaran datang, dan mobil ambulance yang mengekor di belakangnya. Dengan lihai Bapak damkar menyemburkan air selangnya ke sumber api. Dan, terdengar dari seorang pertugas keamanan. Bahwa, menginformasikan bahwa ada korban dilantai 5 dan 10---seorang wanita yang berperan patah tulang belakang di lantai 5 dengan tandu, dialah yang akan diluncurkan dari atas. 

Sehingga, karena nggak ada cara lain. Mereka harus melalui tali, dengan teknik flying fox, dan raffling. Dengan teknik tersebutlah yang memudahkan proses evakuasi. Yang dibawah pun, disambut oleh petugas ambulance dengan sigap dan cepat.

Intinya Jangan Panik! Karena panik hanya akan membuat segalanya berantakan dan tak berarah.

Press Conference HKB


"Kesepakatan pada saat prabencana perlu dibuat bersama oleh seluruh anggota keluarga, agar mereka lebih siap menghadapi situasi ketika darurat bencana," ungkap Pak Willem Rampangilei--Kepala BNPB.

Untuk itulah kita perlu melatih kesiapsiagaan mulai dari Diri Kita Sendiri, dan juga keluarga. Sehingga menciptakan budaya sadar akan bencana. Momentum HKB saya sangatlah terkesan, menjadi bagian dari HKB 2018. Dan, bisa menyaksikan langsung bagaimana upaya penyelamatan bencana.

Dan, sebuah keberhasilan BNPB karena telah mencapai target parsipan! Awal mula target 25 juta, dan kemarin berhasil mencapai 30 juta partisipasi seluruh Indonesia, wow! Yang keberhasilan ini pun berkat dukungan berbagai pihak instansi, mulai dari Kominfo, Kemendikbud, Berbagai Institut, Organisasi, dan lainnya.

So, mari kita berlatih terus untuk menjadi warga Indonesia yang tangguh, siap siaga, dan menciptakan budaya sadar bencana!



You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Find Me on IG @meilanyputrii