I Just Wanna Freedom~ ( Part 2 )

September 06, 2018

“Renia sayang, ada yang mencarimu di depan.” Suara lembut diiringi ketukan pintu kamarku, membuyarkan lamunanku.
Siapa yang datang sepagi ini? “Tunggu sebentar, Bu.”

Pixabay.com

Renia pun segera melangkahkan kakinya. Ia pun melihat ke arah jendela. Tiba-tiba jantungnya berdegur tak keruan, lidahnya kelu. Keringatnya bercucuran. Kenapa dia kesini?
              ***
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanyaku dengan penuh gemetaran, dan jantung yang berpacu cepat.

“Apa aku salah? Aku dengar kamu akan segera ke Jepang, makanya aku kesini.” Dengan mantap tanpa rasa berdosa sedikit pun di wajahnya. Ia mengabaikanku, namun sekarang muncul ketika tahu aku akan pergi. Apa kamu bahagia?!

“Kau tahu darimana? Siapa yang memberitahmu?”

“Apa itu penting? Ayo ikut aku!” Ia menarik lenganku dengan geram ke arah mobill xenia merah yang terparkir di depan rumahku.

“Lepaskan! Kamu mau bawa aku kemana?” Sekuat apa pun aku melawan ia tetap lebih kuat dariku. Akhirnya, aku pun mengalah ikut masuk ke dalam mobil.

Mobil xenia merah ini meluncur dengan sangat lancar, jalanan kota Jogja malamini begitu lengang. Aku menatap ke arah kiri pandangan lurus ke luar kaca jendela mobil, “Kita mau kemana?!” ia diam. Tak ada jawaban, pandangannya lurus ke arah jalanan di depan.

Tak lama kemudian, mobil berhenti dengan sangat anggun di depan Restaurant yang terletak di jantung Kota Jogja. Mobil ini terhenti dan terparkir dengan baik aku pun keluar dan akhirnya mengekor padanya.

“Kamu mau pesan apa?” ucapnya.

“Aku tidak mau! Katakan apa yang ingin kamu lakukan!” Pandanganku awalnya ke arah luar jalanan, lalu beralih menatapnya lamat-lamat.

“Aku hanya ingin berdua denganmu, ketika kamu sudah di Jepang mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi, bukan?”

Aku terdiam. Menatapnya dengan lamat. Berharap terlihat suatu kebohongan di raut wajahnya.

“Aku belum tentu ke Jepang . aku masih ingin di Indonesia. Lupakan masalah akan pergi ke Jepang!” aku kembali mengalihkan pandangan ke arah jalanan, selalu bahagia ketika melihat hiruk pikuk di kota kelahiran Ibu ini. Yang membuatku tak ingin pergi kemana pun. Apalagi harus tinggal di negara orang, dalam waktu yang cukup lama, Big No!

“Hey! Ayahmu sudah menyiapkannya dengan matang. Apa kamu tega membuatnya kecewa?”

Deg! Aku membisu. Sejak kecil tidak pernah aku berkata tidak padanya. Aku selalu mengikuti kemauan Ayahku, karena aku tidak ingin membuatnya kecewa. Sungguh aku tidak pernah ingin mengecewakannya. Tapi kali ini? Apa aku juga harus mengikutinya?

“Permisi. Ini pesanannya.” Wanita berparas cantik mebawakan dua cangkir coffee latte, dan kentang goreng.

“ Terimakasih, Mba,” ucap Reno. “Ini untukmu."

Reno memberikan secangkir cokelat; minuman kesukaanku. Tentu saja ia hapal betul tentang segalanya, selama dua tahun kita selalu bersama. Walau pun pada akhirnya kita akan berpisah. Aku hanya mengaduk cokelat itu. Tidak meminum sedikit pun. Dengan pikiran yang entah kemana.

“Kenapa keliatannya kamu sedih, Re?” Aku nyaris melupakan ada seseorang di hadapanku. Terlalu sibuk dengan pikiran sendiri, “Nggak, aku gapapa, Ren.” 

Kuberikan seulas senyum palsu lalu beralih ke sebelah kiri; jalanan kota ini yang semakin di penuhi oleh kendaraan beroda dua mau pun empat walau malam mulai larut pun. Sudah tidak asing lagi bagiku.

“Kalau aku ada waktu, aku akan berkunjung kesana, berteu denganmu.” Aku terbelalak; tidak percaya, apa yang dikatakannya barusan. Seperti bukan dirinya; yang selalu tak acuh padaku.

“Untuk apa?”

“Tentu saja untuk berjumpa denganmu, dan aku memiliki teman disana, aku juga ingin berjumpa dengannya.”

Wajahku kecut; malu dan kesal. Ternyata ia ingin bertemu temannya. Bukan semata untukku.

“Ayo pulang, Ren.” Aku bangkit dan meraih tas selempangku.

“Tapi kita belum juga makan, Re? oke, baiklah.” Akhirnya Reno mengalah melihat wajahku yang masam dan telah bersiap keluar dari tempat ini.

Mobil xenia merah melaju dengan sangat anggun. Sepi. Kami tenggelam dengan pikiran masing-masing. Pandanganku ke sebelah kiri menatap kerlap-kerlip kota Jogja, terlihat begitu indah jika malam tiba. Bagaimana mungkin? Sebentar lagi aku akan pergi dari kota indah ini. Apa aku bisa?

“Lakukan saja apa yang diinginkan Ayahmu itu ya, Re.” Suara Reno dengan lembut. Ia bisa mengatakan seperti itu, karena ia tidak merasakan apa yang kurasakan. Aku menggubrisnya.

Mobil pun berhenti anggun di depan rumah bercat ungu yang tidak asing lagi; rumahku.

“Terimakasih untuk hari ini.” Membuka pintu dan melangkah menjauh dari mobilnya. Tanpa sedikit pun menoleh kembali.

Di rumah terlihat lengang, kulirik jam dinding menunjukkan pukul 22.00. Mungkin Ayah lembur. Aku langsung melangkahkan kaki ke lantai dua: kamarku. 

"Teng!" Suara berisik terdengar dari dapur. Siapa itu?

You Might Also Like

5 komentar

  1. Lanjutannya udah terbit belum?
    Deuh kan jadi penasaran daku nih part 3 nya kek apa 😊

    BalasHapus

Popular Posts

Find Me on IG @meilanyputrii