I Just Wanna Freedom~

September 02, 2018


Ketika hati tak lagi dapat ditakluki, jiwa ini terlalu kelam dan sudah terlalu jauh masuk kedalam lubang yang amat curam. Bisakah aku kembali untuk meluruhkan segala kekelamanku? Dengan mulai ikhlas akan sebuah suratan takdir jika kita memang tak seharusnya bersatu. Hanya pasrah akan-Nya.”

Rintikan hujan malam ini barusan saja berhenti, menyisakan genangan air di selokan dan tetesan air di dahan pohon. Cuaca malam ini amat mewakili perasaanku yang tengah gundah.

“Maaf, Re. sepertinya sampai disini saja hubungan kita, maafkan aku.” Ucapan lelaki berperawakan tinggi berkulit kuning langsat, lelaki yang selama ini kubanggakan, kudambakan, begitu amat sangat dalam jalinan kisah cinta kami berjalan selama dua tahun, namun apa? Ucapan malapetaka itu mudah saja meluncur keluar dari mulutnya, seperti tidak merasa berdosa, dan tidak pernah ada yang terjadi selama ini. Apakah semudah itu melupakan?

"Renia, gimana sayang? kemana kamu akan melanjutkan studymu?" tanya Ayah pada saat makan malam menghidang masakan lezat Ibu. Namun, pertanyaan Ayah membuat selera makanku hilang seketika.

"Entahlah, Ayah. Aku belum memikirkannya." Suapan sendok nyaris masuk ke dalam mulutku, saat ini urung. Semoga Ayah tidak melanjutkan topik yang merusak suasana itu. sejujurnya, aku hanya ingin istirahat sementara karena sekian lama bergulat dalam pulahan soal ujian. aku ingin berlibur.

"Bagaimana jika kamu kuliah di Jepang, Re. Tempat kelahiran Ayah disana." Ayah menyuap makanannya ke mulut, Ibu pun mengganguk mantap. namun aku? ya, kini sudah benar-benar hilang nafsu makanku. sendok itu kulepaskan ke piring. hal yang ditakutkan terjadi, Ayah menyuruh untuk tinggal di Negara kelahirannya. yang disana hanyalah tersisa Nenek dan keluarga Paman. itu sangatlah membosankan!

"Aku ke kamar dulu ya, Ayah, Ibu." Tak peduli respon mereka. Aku langsung melangkahkan kaki ke tangga menuju lantai dua, kamar kesayanganku. aku tutup pintu dengan rapat dan merebahkan badan di pembaringan. Menatap langit-langit kamar kesayanganku bercat ungu terong, dan terdapat hiasan bunga sakura di setiap sudut. ya, aku memang menyukai Jepang. tetapi bukan tinggal berlama-lama disana. itu akan sangat membosankan! Ditambah dengan sepupuku yang angkuhnya bukan main.

                                                                        ***

pixabay.com


Pagi ini begitu cerah, langit biru ditemani awan putih bergantung di singgasana. Kicauan burung seperti sedang mengalami kebahagiaan yang tak terlukiskan. Mereka dapat berlabuh kemana saja ia inginkan. Aku iri padamu burung!

“Renia sayang, ada yang mencarimu di depan.” Suara lembut diiringi ketukan pintu kamarku, membuyarkan lamunanku.
Siapa yang datang sepagi ini? “Tunggu sebentar, Bu.”

Renia pun segera melangkahkan kakinya. Ia pun melihat ke arah jendela. Tiba-tiba jantungnya berdegur tak keruan, lidahnya kelu. Keringatnya bercucuran. Kenapa dia kesini?

To be continue...

You Might Also Like

8 komentar

  1. Wah yg datang siapa?mantannya?wah...jadi ke jepang ga ya?bikin penasaran nih😎

    BalasHapus
  2. Wah ditawarin kuliah ke jepang kok nanti dulu ya. Buatku aja deh. Heheh

    BalasHapus
  3. Paket.. paket jne mbaaa.. wkwkwk

    BalasHapus

Popular Posts

Find Me on IG @meilanyputrii